Laman

30 Apr 2016

Prinsip Pendidikan Kejuruan Menurut Miller

Miller (1985) mengemukakan prinsip pendidikan teknologi dan kejuruan menjadi tiga kategori, yaitu : principles and people, principles and programs dan principles and process. 

Miller memberi penjelasan tentang prinsip-prinsip pendidikan kejuruan yang berkaitan dengan peserta didik ( principles and people ) yang digolongkan ke dalam 10 prinsip, sebagai berikut:

1.   Guidance – Giudance is an essential component of vocational education.
Bimbingan merupakan unsur penting dalam pendidikan kejuruan, dan lebih jauh dari itu dengan bimbingan melalui pendidikan kejuruan dapat memberikan bimbingan dan tuntunan kepada siswa dalam rangka hidup dan kehidupannya.Melalui program bimbingan siswa dapat diarahkan untuk memilih kompetensi (jurusan) yang sesuai dengan minat dan potensinya. Program bimbingan dapat memberikan gambaran karir pekerjaan yang sesuai dengan pilihan kompetensi, termasuk tatacara (langkah) pencapaian tujuan pendidikan kejuruan. Tidak hanya itu, program bimbingan dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap dan jelas (detail) tentang dunia industri sehingga siswa memperolah gambaran yang cukup untuk dapat menentukan pilihannya termasuk memilih karir pekerjaan.

2.   Lifelong Learning – Lifelong learning is promoted through vocational education.
Belajar seumur hidup dipromosikan melalui pendidikan kejuruan. Prinsip belajar seumur hidup atau secara terus menerus dapat ditingkatkan melalui pendidikan kejuruan. Dengan adanya perkembangan IPTEK dan perubahan zaman, melalui pendidikan kejuruan masyarakat akan selalu dapat menyesuaikan, mengantisipasi dan adaptif. Para pekerja juga dianjurkan untuk terus belajar baik melalui pelatihan ataupun pendidikan part-time dengan tujuan untuk meningkatkan intelegensi umum serta meningkatkan intelegensi industry dan skill.Venn (1964) mengatakan pendidikan berkelanjutan adalah hal yang penting untuk setiap orang. Sistem pendidikan nasional harus mengembangkan cara baru untuk memungkinkan individu memperoleh tambahan pendidikan umum dan skill pekerjaan.

3.   Needs – Needs of the community are reflected by programs of vocational education.
Kebutuhan masyarakat dicerminkan oleh program pendidikan kejuruan.Segala kebutuhan masyarakat akan terpenuhi baik dari kepentingan individu, masyarakat, maupun nasional. Hal ini tergambarkan pendapat dari Presiden  National Metal Trades Association:Kebutuhan dari pendidikan kejuruan di Amerika sangat besar, efisiensi industri masa depan secara hebat daat berkembang melalui sistem pelatihan kejuruan (vocational training)

4.   Open to All – Vocational education is open to all.
Pendidikan kejuruan terbuka bagi semua. Pendidikan kejuruan dimaksudkan untuk menyediakan program bagi yang belum terlayani oleh sistem pendidikan umum.Pendidikan ini terbuka untuk semua masyarakat tanpa kecuali, tanpa membedakan yang kaya atau miskin, pria ataupun wanita. Hal ini senada dengan Prosser, Snedden, Dewey, Gompers, yang mengatakan Pendidikan kejuruan sangat potensial untuk menjadikan pendidikan masyarakat lebih demokrasi. Pendidikan kejuruan memberikan kebebasan individu/masyarakat untukmenentukan alternatif pilihan pendidikannya maupun keahliannya sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan yang dimiliki. Dan dikatakan pula “…… vocational education is intended to serve people of all ages”

5.   Placement – Placement in the next step is a responsibility of vocational education.
Penempatan di (dalam) langkah berikutnya adalah suatu tanggung jawab pendidikan kejuruan.Pendidikan kejuruan lebih bertanggungjawab dalam mencetak dan membentuk individu/masyarakat untuk dapat menduduki atau menempati di dalam berbagai bidang pekerjaan atau jabatan di dalam hidupnya. Asumsi dari pernyataan ini dikemukakan oleh Miller sebagai berikut: “Pendidikan kejuruan secara umum,kurang lebih merupakan format penawaran bimbingan lapangan  kerja dan tindakan penempatan tenaga kerja untuk lulusan mereka”.

6.   Sex Bias / Stereotyping – Elimination of sex bias and sex-role stereotyping is promoted through vocational education.
Perbedaan peran pendidikan jenis kelamin dipromosikan melalui pendidikan kejuruan.Melalui pendidikan kejuruan dapat menghilangkan anggapan yang salah terhadap pendapat yang mengatakan  bahwa pendidikan kejuruan hanya untuk kaum pria saja. Sesuai prinsip baha pendidikan kejuruan tidak membedakan kaum pria dan wanita, memberikan kesempatan bagi semua orang untuk mendapatkan pendidikan tersebut. Prinsip ini pada kenyataannya di dunia usaha/industri banyak memerlukan tenaga kerja baik pria maupun wanita dengan keterampilan dan penegtahuan yang memadai. Pekerjaan-pekerjaan tertentu malah memerlukan tingkat ketelitian, kesabaran,kecermatan maupun kehalusan yang tinggi, hal ini memerlukan tenaga wanita yang berasal dari pendidika kejuruan.

7.   Special Needs – Individuals with special needs are serve through vocational education.
Individu dengan kebutuhan khusus dilayani melalui pendidikan kejuruan.Setiap individu/masyarakat mempunyai keinginan atau kebutuhan yang khusus yang saling berbeda dengan yang lainnya. Pendidikan kejuruan  menawarkan berbagai program sesuai dengan kebutuhan tersebut.

8.   Student Organization – Student Organizations are an integral feature of vocational education.
Organisasi siswa adalah suatu corak pendidikan kejuruan integral.Melalui pendidikan kejuruan dapat dibentuk berbagai macam kelompok peserta didik yang terorganisir secara melembaga. Dalam pendidikan kejuruan dapat dibeda-bedakan antara lain: pendidikan/sekolah teknik, bidang kedokteran, bisnis, ekonomi, pertanan, kehutanan, industri, management, dan lain sebagainya. “ pada dasarnya semua jenis pendidikan apapun tidak lain adalah pendidikan kejuruan juga”.

9.   Teacher – Teacher of vocational education are both professionally and occupationally competent.
Guru pendidikan kejuruan merupakan komponen guru profesi dan guru jabatan.Guru merupakan komponen utama dalam pendidikan kejuruan, di samping komponen lain yang harus ada, seperti:
a.  Guru harus berkompeten secara khusus dibidang yang akan diajar
b.  Guru harus mengetahui bagaimana cara memberi pengajaran
c. Guru harus berhadapan dengan suatu kelompok permasalahan yang melibatkan  pengetahuan siswa dan bisa hadapi secara khusus.
d.  guru harus mempunyai suatu pengalaman mendidik yang luas .

10.        Work Ethic – A positive work ethic is promoted through vocational education.
Suatu etos kerja  (work ethic) dipromosikan melalui pendidikan kejuruan.Slamet PH, etos (ethic) dapat diinterpretasikan sebagai kebiasaan, kecendrungan modal, sikap terhadap sesuatu, atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Jadi etos kerja dapat diartikan sebagai kebiasaan kerja, kecendrungan modal kerja atau pandangan hidup tentang kerja. Sehingga dapat dikatakan semakin tinggi etos kerja seseorang akan semakin tinggi dalam prestasi kerjanya.Melalui pendidikan kejuruan, seseorang dapat meningkatkan etos kerjanya, prestasi kerjanya, dan akhirnya dapat menunjukkan produktivitas yang tinggi. Oleh karena itu dalam pendidikan kejuruan, di samping menekankan segi skill, tetapi juga segi afektif dan knowlegde pada umunya. Di mana pada pendidikan non kejuruan  tidak akan di jumpai.
loading...
artikel kejuruan

No comments:

Post a Comment

Search Post