Laman

10 Apr 2016

Teori Konstruktivisme

Prinsip konstruktivisme adalah inti dari filsafat pendidikan William James dan John Dewey (John W. Santrock, 2008 : 8). Konstruktivisme menekankan agar individu secara aktif menyusun dan membangun pengetahuan dan pemahaman. Konstruktivisme dikembang luas oleh Jean Piaget, ia dikenal sebagai seorang psikolog yang pada akhirnya lebih tertarik pada filsafat konstruktivisme dalam proses belajar. Titik sentral teori Jean Piaget adalah perkembangan fikiran secara alami dari lahir sampai dewasa, menurut Piaget untuk memahami teori itu kita harus paham tentang asumsi-asumsi biologi maupun implikasi asumsi-asumsi tersebut dalam mengartikan pengetahuan 
Menurut Piaget seperti yang dikutip Rita L. Atkinson dkk. ( 2003: 145) bahwa anak harus dipandang seperti seorang ilmuwan yang sedang mencari jawaban yang melakukan eksperimen terhadap dunia untuk melihat apa yang terjadi (“Seperti apa rasanya menggigit kuping beruang Teddy ini?”, “Apa yang terjadi jika saya mendorong piring ini keluar dari meja?”).
Selanjutnya masih menurut Rita L. Atkinson (2003: 145), hasil dari eksperimen miniatur itu menyebabkan anak menyusun “teori”, Piaget menyebutnya skemata (atau tunggal, skema) tentang bagaimana dunia fisik dan sosial beroperasi. Saat menemukan benda atau peristiwa baru, anak berupaya untuk memahaminya berdasarkan skema yang telah dimilikinya. Piaget menyebut hal ini proses asimilasi; upaya anak untuk mengasimilasikan peristiwa baru ke dalam skema yang telah ada sebelumnya. Jika skema lama tidak adekuat untuk mengakomodasi peristiwa baru, maka anak seperti layaknya seorang ilmuwan yang baik memodifikasi skema dan dengan demikian memperluas teori tentang dunia. Piaget menyebut proses revisi skema ini sebagai akomodasi.
Paradigma konstruktivisme oleh Jean Piaget melandasi timbulnya strategi kognitif, disebut teori meta cognition. Meta cognition merupakan keterampilan yang dimiliki oleh siswa-siswa dalam mengatur dan mengontrol proses berpikirnya. Menurut Preisseisen meta cognition meliputi empat jenis keterampilan, yaitu:
1.  Keterampilan Pemecahan Masalah (problem solving), yaitu keterampilan individu dalam menggunakan proses berfikirnya untuk memecahkan masalah melalui pengumpulan fakta-fakta, analisis informasi, menyusun berbagai alternatif pemecahan, dan memilih pemecahan masalah yang paling efektif.
2.  Keterampilan Pengambilan Keputusan (decisiĆ³n making), yaitu keterampilan individu dalam menggunakan proses berfikirnya untuk memilih suatu keputusan yang terbaik dari beberapa pilihan yang ada melalui pengumpulan informasi, perbandingan kebaikan dan kekurangan dari setiap alternatif, analisis informasi, dan pengambilan keputusan yang terbaik berdasarkan alasan-alasan yang rasional.
3.  Keterampilan Berfikir Kritis (critical thinking), yaitu keterampilan individu dalam menggunakan proses berfikirnya yaitu menganalisa argumen dan memberikan interpretasi berdasarkan persepsi yang benar dan rasional, analisis asumsi dan bias dari argumen, dan interpretasi logis.
4.  Keterampilan Berfikir Kreatif (creative thinking), yaitu keterampilan individu dalam menggunakan proses berfikirnya untuk menghasilkan gagasan yang baru, konstruktif berdasarkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang rasional maupun persepsi, dan intuisi individu.
Keterampilan-keterampilan di atas saling terkait antara satu dengan yang lainnya, dan sukar untuk membedakannya, karena keterampilan-keterampilan tersebut terintegrasi.
Paradigma konstruktivisme dan teori meta cognition melahirkan prinsip reflection in action. Proses reflection in action merupakan gambaran tentang proses belajar. Seseorang belajar melalui aktifitas atau pekerjaan sendiri dan kemudian mengkaji ulang dari pekerjaan yang telah dilakukannya. Proses pembelajaran strategi kognitif merupakan proses reflection in action. Berdasarkan teori ini bahwa proses belajar diawali dari pengalaman nyata yang dialami oleh seseorang. Pengalaman tersebut direfleksi secara individual.
Menurut Brooks & Brooks, 2001 seperti yang dikutip John W. Santrock (2008 : 8) bahwa dalam pandangan konstruktivis, guru bukan sekedar memberi informasi ke pikiran anak, akan tetapi guru harus mendorong anak untuk mengeksplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung dan berpikir secara kritis.
Dewasa ini menurut Gauvain, 2001 seperti yang dikutip John W. Santrock (2008 :8) bahwa konstruktivisme juga menekankan pada kolaborasi anak-anak saling bekerja sama untuk mengetahui dan memahami pelajaran.
loading...
artikel kejuruan

No comments:

Post a Comment

Search Post