Laman

9 May 2016

Hakekat Pembelajaran Konstektual

Pembelajaran kontekstual merupakan suatu konsep yang membantu guru-guru menghubungkan isinya mata pelajaran dengan situasi keadaan di dunia nyata (real world) dan memotivasi peserta didik untuk lebih paham hubungan antara
pengetahuan dan aplikasinya sebagai bekal hidup mereka sebagai anggota keluarga, masyarakat, dan pekerja

Perubahan paradigma pendidikan kejuruan dari supply driven ke demand driven dari school based ke dual system menuntut perubahan-perubahan kearah wawasan mutu, wawasan keunggulan, persaingan, dan perbaikan pembelajaran.

Pembelajaran di SMK harus dilakukan melalui kegiatan nyata melalui praktek atau pengalaman langsung. Materi pembelajaran dikembangkan agar terkait dengan situasi dunia nyata peserta didik. Pembelajaran selalu mengupayakan agar peserta didik terdorong membuat hubungan antara pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan nyata.
Dalam hal ini pembelajaran akan menjadi bermakna bagi
peserta didik bukan bagi guru.

Pendapat ahli tentang Pembelajaran konstektual

Contextual Learning : "A conception that helps teachers relate subject matter content to real world situations and motivates students to make connections between knowledge and its applications to their lives as family members, citizens, and workers." (BEST, 2001).

Pembelajaran kontekstual dirancang berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan nyata dimana peserta didik bekerja dan mengalami secara langsung proses pembentukan setiap kompetensi. Peserta didik mengkonstruksi pengetahuannya sendiri bukan transfer pengetahuan dari guru atau sekedar menghafal. Peserta didik mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa, dan bagaimana mencapainya. Peserta didik memposisikan dirinya sebagai orang yang memerlukan informasi, selalu berusaha untuk menggapai informasi, menyadari apa yang mereka pelajari berguna bagi hidup dan kehidupannya.

Covey dalam bukunya The Seven Habits yang dikutip oleh Hernowo menekankan pentingnya melakukan pembiasaan diri dalam melakukan suatu kegiatan yang bermanfaat. Kebiasaan itu merupakan gabungan dari tiga unsur yaitu knowledge, skill, dan desire.
Dasarnya adalah keinginan (desire) untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat yang didukung oleh pengetahuan (knowledge)
dan dilakukan dengan ketrampilan (skill) yang tinggi.

Dalam pembelajaran konstektual guru sebagai fasilitator lebih banyak mengembangkan strategi pembelajaran dibanding mengajar atau memberi informasi, mengelola kelas sebagai tim bekerja untuk menemukan sesuatu yang berguna bagi anggota tim (peserta didik). Guru mendorong kegiatan pembelajaran agar peserta didik mengkonstruksi pengetahuan, ketrampilan, dan sikap
dengan cara menemukan sendiri (inquiry). Peserta didik didorong untuk membentuk masyarakat belajar (learning community) selalu aktif bertanya (questioning), kreatif, menggunakan waktu secara efektif, efesien dalam suasana hati yang menyenangkan. Dalam melaksanakan pembelajaran kontektual untuk hal-hal khusus guru dapat mengembangkan pemodelan (modeling) sebagai tiruan. Penilaian pembelajaran kontekstual menggunakan penilaian sebenarnya (authentic assessment).

Langkah-langkah Pembelajaran Kontekstual

  1. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri,
    dan mengkonstruksi pengetahuan dan ketrampilan barunya;
  2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua
    topik;
  3. Kembangkan sikap ingin tahu siswa dengan bertanya;
  4. Ciptakan masyarakat belajar (Belajar dalam kelompokkelompok);
  5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran;
  6. Lakukan repleksi akhir pertemuan;
  7. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

Pendekatan Pembelajaran Kontekstual

  1. Pembelajaran sesuai dengan perkembangan mental peserta
    didik;
  2. Membentuk grup belajar yang saling ketergantungan;
  3. Menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran
    mandiri: kesadaran berfikir, penggunaan strategi, dan
    motivasi berkelanjutan;
  4. Memperhatikan keragaman peserta didik;
  5. Memperhatikan multi-intelegensi siswa (multiple intelligences): spasial-verbal, linguistic-verbal, interpersonal, musical ritmik, naturalis, bada-kinestetika, intrapersonal, dan
    logismatematics.
  6. Menggunakan teknik-teknik bertanya dalam meningkatkan pembelajaran peserta didik;
  7. Menerapkan penilaian autentik.

Dalam pembelajaran konstektual guru  lebih banyak mengembangkan strategi pembelajaran dibanding mengajar atau memberi informasi. Hal ini sesuai dengan kutipan mutiara Plutarch “Pikiran bukanlah sebuah wadah untuk diisi, melainkan api yang harus dinyalakan”.

loading...
artikel kejuruan

No comments:

Post a Comment

Search Post