Laman

20 Dec 2016

Faktor Penyebab Rendahnya Mutu Pendidikan

image

Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, pemerintah telah memberdayakan kepala sekolah sedemikian rupa serta otonomi yang memberi ruang gerak yang lebih luas untuk mengelola pendidikan. Namun, pada kenyataannya mutu pendidikan di Indonesia masih memrihatinkan. Laporan Badan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk bidang pendidikan, United Nation Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menunjukkan bahwa peringkat Indonesia dalam hal pendidikan turun dari peringkat 65 untuk tahun 2010 menjadi peringkat 69 pada tahun 2011 di antara 127 negara di dunia. Posisi tersebut berada di bawah Malaysia dan Brunei Darussalam (Kompas.com, 3 Maret 2011).

 

Faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan adalah masalah manajemen pengelolaan sekolah yang berkaitan erat dengan peningkatan mutu sekolah. Pada umumnya manajemen sekolah belum mampu menggali secara maksimal seluruh potensi yang ada agar dapat bersinergi dalam mendukung proses kegiatan pembelajaran yang optimal (Bahrumsyah, 2009). Simanjuntak (2009:5) melaporkan bahwa hasil survei pada tahun ajaran 2006/2007: lulusan SMK Negeri hanya 23% yang bekerja di dunia usaha dan industri, salah satu faktor penyebab rendahnya daya serap lulusan SMK tersebut adalah kepemimpinan kepala sekolah.

 

Pada pertengahan November 2008, Stuart Weston, Co-PDBE3 (Proyek Decentralized Basic Education Three), proyek lima tahun yang dirancang oleh USAID Indonesia, berkunjung ke Binjai Sumatra Utara dan menyatakan bahwa kemajuan di bidang pendidikan di akan lebih berhasil jika semua pihak memunyai komitmen yang tinggi untuk bersama-sama meningkatkan kualitas pendidikan. Banyak hal yang berpengaruh dalam mewujudkan programnya. Salah satu di antaranya adalah memiliki komitmen dan tekad yang kuat untuk berhasil.

 

Hal itu menunjukkan bahwa para pengelola pendidikan, khususnya kepala sekolah belum memiliki komitmen dalam menuntaskan masalah mutu pendidikan. Dalam acara USAID DBE3 menyatakan bahwa sebaik apa pun program yang telah disusun untuk meningkatkan kualitas siswa di sekolah, akan dapat berjalan dengan baik bila kepala sekolah memiliki komitmen perubahan, cinta pekerjaan, mampu bekerja sama dengan guru dan masyarakat sebagai wali siswa.

 

Menyikapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dalam Renstra 2010-2014 merumuskan visi: “Terwujudnya sistem pendidikan masyarakat yang berdaya saing dan berakhlak mulia, salah satu misinya adalah “meningkatkan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan”. Peningkatan profesionalisme kepala sekolah kejuruan termasuk juga dalam misi tersebut. Lebih lanjut diungkapkan bahwa untuk mewujudkan misi tersebut, sumber daya manusia ditantang agar memiliki komitmen yang tinggi pada perubahan dan inovasi pembelajaran. Hal tersebut secara implisit menunjukkan pentingnya suatu penelitian yang berfokus pada perilaku kepala sekolah kejuruan khususnya.

 

Kepemimpinan (leadership) adalah proses memengaruhi dan mendukung orang-orang untuk bekerja secara antusias demi ketercapaian tujuan (Newstrom, 2007:159)

 

Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk mewujudkan visi, misi, dan sasaran sekolah melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Kepala sekolah dituntut menguasai perilaku organisasi, khususnya mengenai budaya organisasi, kepemimpinan, komunikasi interpersonal, kepuasan kerja, dan komitmen organisasi.

 

Kepala sekolah sebagai manajer dan pemimpin sekolah akan menjadi pemimpin yang sukses bila mampu memengaruhi bawahannya untuk mencapai tujuan. Untuk itu, kepala sekolah perlu:

(1) merancang tugas yang hendak dilakukan.

(2) memutuskan suatu cara untuk melakukan tugas tersebut.

(3) memilih orang yang hendak melakukan tugas tersebut.

(4) memberi tahu mereka mengapa tugas tersebut harus dilakukan.

(5) memberitahu mereka bagaimana cara mengerjakannya.

(6) memberitahu mereka kapan tugas tersebut dilaksanakan.

Dalam rangka menjalankan tugas-tugas kepemimpinan kepala sekolah diperlukan komunikasi interpersonal, baik secara vertikal maupun horizontal dengan pola keterbukaan, berempati, kesetaraan, dan kepositifan.

Medkipun masih banyak lagi faktor yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan. Namun jika sebuah sekolah memiliki kepala sekolah yang transformasional hal itu dapat mengubah wajah pendidikan menjadi lebih baik

DAFTAR PUSTAKA

Newstrom, John W. 2007. Organizational Behavior, Twelfth Edition. New York: Mc Graw Hill.

loading...
artikel kejuruan

No comments:

Post a Comment

Search Post