Laman

2 Jan 2017

Cara Memupuk Jiwa Kewirausahaan Anak

image

Kebanyakan orangtua sering memaknai dan menyikapi kebiasaan konsumtif anak-anak secara negatif. Padahal, apa yang didengar, dilihat, dan dirasakan anak merupakan pendidikan yang membentuk jiwa dan kepribadiannya kelak. Jajan memang sangat identik dengan dunia anak. Ada yang merengek-rengek minta jajan, karena anak tetangga atau teman sekolahnya lagi jajan. Ada juga yang sering jajan, karena mendapat uang saku ekstra dari sang eyang. Tidak hanya itu, anak-anak juga biasanya minta dibelikan mainan ini dan itu. Secara psikologis, kebiasaan ini bisa dimaklumi, karena dunia anak memang dunia bermain, ceria, dan bergembira ria. Yang bisa dilakukan oleh orangtua dan para pengasuh adalah, mengarahkan kebiasaan itu agar bernilai edukasi. Seperti, menanamkan jiwa wirausaha kepada anak sejak usia dini. Sehingga, budaya konsumtif itu bisa berubah menjadi budaya produktif.

 

Menurut Psikolog Anak, Rina Mutaqinah Taufik, pendidikan wirausaha untuk anak sejak dini ini sangat baik. Namun sebelumnya, si anak harus dibekali tentang nilai tanggung jawab, cara mengelola uang secara sederhana, dan mengelola waktu untuk belajar dan berwirausaha. Misalnya, mengajarkan anak tanggung jawab ketika buang air kecil ke toilet, dan mengelola uang jajan yang diberikan—sebagian untuk jajan makanan yang sehat, sebagian untuk menabung, dan sebagian lagi untuk sedekah. Latihan seperti ini sudah bisa dilakukan sejak anak berusia dua tahun. Karena, sejak kecil pun anak sudah mampu berkomunikasi. “Jangan anggap anak tidak mengerti apa-apa dengan mengatakan, ‘Ah, masih anak kecil,’” ujarnya. Sementara itu, menurut Zainun Mu’tadin, M.Psi, Dosen Psikologi UPI YAI, orangtua harus menanyakan anaknya hal-hal yang memancing kreativitas. Misalnya, jangan bertanya 5 x 5 berapa. Tapi, tanyalah berapa kali berapa saja sama dengan 25. Anak akan dilatih untuk memiliki beberapa alternatif jawaban dan solusi. Dengan alternatif tersebut, anak mampu mengambil keputusan yang tepat dari berbagai pilihan yang ada.Tentu saja jiwa wirausaha pada diri anak tidak serta-merta ada, tapi memerlukan latihan bertahap. Bisa dimulai dari hal-hal kecil dalam aktivitas keseharian anak. Misalnya, membereskan mainan selesai bermain, rajin sikat gigi sebelum tidur, dan membereskan tempat tidur. Ini merupakan latihan untuk berdisiplin, bertanggung jawab, dan awal pengajaran tentang kepemilikan.

 

Latihan selanjutnya, mengajarkan anak untuk mampu mengelola uang dengan baik. Latihan yang perlu diajarkan bukan hanya cara membelanjakan, tapi juga menabung, sedekah, dan mencari uang. Tentu saja cara ini memerlukan konsistensi orangtua terhadap aturan. Tahap selanjutnya, si anak mulai diajarkan berbisnis kecil-kecilan. Misalnya, menjual makanan ringan ke teman-teman sekolahnya. Dengan syarat, orangtua harus benar-benar melihat kemampuan si anak, agar tidak membebani ketika belajar di sekolah. “Kalau kita tahu anak bermasalah dalam konsentrasi belajar, sebaiknya jangan dulu diizinkan,” tegas Zainun. Dengan demikian, anak akan memiliki keahlian mendasar untuk menjadi seorang pengusaha. Ia akan belajar mengetahui modal awal, harga jual, dan laba dari penjualan. Secara mental, akan merangsang kreativitas anak dan membentuk kesadaran bahwa mencari uang itu tidak mudah. Dan secara tidak langsung, ia juga belajar matematika, marketing, komunikasi, dan lain sebagainya.

Indonesia sebagai negara besar yang memiliki penduduk sekitar 230 juta jiwa masih sangat minim memiliki wirausahawan. Berdasar data, hanya sekitar 0,18% penduduk Indonesia dari total penduduk yang merupakan wirausahawan. Padahal secara konsensus, sebuah negara agar bisa maju, minimal harus memiliki wirausahawan minimal 2% dari total penduduknya. Peluang untuk tumbuhnya wirausahawan di negeri ini sebenarnya cukup besar, namun anehnya pengangguran dari waktu ke waktu justru makin meningkat. Salah satu penyumbang besar pengangguran dan terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu adalah mereka yang berstatus sarjana. Dunia wirausaha menjadi pilihan ke-2 setelah menjadi karyawan, baik itu karyawan PNS maupun swasta. Sepertinya telah terjadi sesuatu secara sistematis di negri ini. Kenapa, karena di jaman nenek moyang kita, jarang kita menemukan pengangguran, hampir semua masyarakat berkarya sebagai, petani, nelayan, pedagang atau profesi lain. Sepertinya ada pergeseran budaya di masyarakat kita. Dahulu, pekerjaan diwariskan dari orang tua turun temurun. Tidak seperti sekarang, pekerjaan dicari, dilamar, dan kemudian diterima atau ditolak.

 

1. Proses Pembelajaran kewirausahaan (Entrepreneurial Learning)

Dalam teori siklus pembelajaran, Munford (1995) menyatakan bahwa pembelajaran didapat dari proses pembelajaran atas pengalaman yang didapat dalam aktivitas sehari-hari yang kemudian disimpulkan dan menjadi konsep maupun sistim nilai yang dipergunakan untuk keberhasilan dimasa yang akan datang. Hall menyatakan bahwa dalam jangka pendek pembelajaran akan merubah sikap dan kinerja seseorang, sedangkan dalam jangka panjang mampu menumbuhkan identitas dan daya adaptabilitas seseorang yang sangat penting bagi keberhasilannya. Cope dan Watt menyatakan bahwa kejadian kritis (critical-incident) yang dialami wirausaha dalam kegiatan usahanya sehari-hari mengandung muatan emosional yang sangat tinggi dan pembelajaran tingkat tinggi. Cope dan Watt menekankan pentingnya pembimbingan (mentoring) untuk mengintepretasikan kejadian kritis yang dihadapi sebagai pembelajaran, sehingga hasil pembelajarannya menjadi efektif.

Sulivan menekankan pentingnya client-mentor matching dalam keberhasilan pembimbingan. Ia mengatakan bahwa pengetahuan, keterampilan, dan pembelajaran dapat difasilitasi ketika dibutuhkan wirausaha. Dengan memperhatikan tingkat siklus hidup wirausaha. Lebih jauh, Rae menggambarkan bahwa pengembangan kemampuan wirausaha dipengaruhi oleh motivasi, nilai-nilai individu, kemampuan, pembelajaran, hubungan-hubungan, dan sasaran yang diinginkannya. Sementara itu Minniti dan Bygrave membuktikan dalam model dinamis pembelajaran wirausaha, bahwa kegagalan dan keberhasilan wirausaha akan memperkaya dan memperbaharui stock of knowledge serta sikap wirausaha sehingga ia menjadi lebih mampu dalam berwirausaha. Dalam kaitannya dengan upaya untuk mempertahankan usaha, seorang wirausahawan memerlukan suatu strategi positioning yang kuat serta konsisten dalam suatu lingkungan persaingan yang dinamis. Hal ini memerlukan suatu perbaikan yang berkelanjutan untuk mengelola perubahan tersebut agar efektif sehingga diperlukan suatu proses pembelajaran baik single-loop learning untuk memperkuat posisi saat ini maupun double-loop learning untuk menemukan landasan kokoh guna membangun keunggulan bersaing.

Wright menyebutkan bahwa “akumulasi pembelajaran” merupakan salah satu harta tak berwujud yang menjadikan suatu kapabilitas individu atau perusahaan yang tidak dapat ditiru (inimitable), terutama pengetahuan teknis yang tidak kentara (tacit knowledge). Pendidikan dan latihan, mentoring dan belajar dari pengalaman merupakan faktor pembentuk pembelajaran kewirausahaan yang signifikan. Pembelajaran dapat dipandang sebagai proses perubahan dan pembentukan pengetahuan, keterampilan, sikap dan kemampuan seorang wirausahawan, baik melalui pendidikan, pelatihan, mentoring, ataupun pengalaman.

loading...
artikel kejuruan

No comments:

Post a Comment

Search Post