Laman

2 Jan 2017

Pengertian Studi Kasus

image

 

 

Studi kasus adalah metode yang digunakan untuk mengembangkan pemahaman mulai dari proses, program,hingga acara atau kegiatan. Tujuan dari studi kasus adalah untuk mengembangkan pemahaman yang komprehensif tentang kasus ataukeadaan yang terjadi dengan caramendeskripsikan dan menganalisisnya (Smith 1978). Pendekatan studi kasus bergantung pada pengumpulan data yang sistematis dan terperinci dari berbagai sumber terutama observasi langsung ke sumber data.

Studi kasus memberikan gambaran yang lebih terperinci tentang operasi suatu program di sejumlah lokasiatau tempat dan menghasilkan pemahaman yang mendalam tentang bagaimana dan mengapa operasi program tersebut berhubungan dengan hasil yang dicapai sertauntuk memahami proses pelaksanaan program. Namun studi kasus tidak mewakili statistic sebuah kasus karena sumber data membutuhkan kedalaman analisis sehingga memakan waktu dan membutuhkan biaya yang mahal

A. Merancang Studi Kasus

Desain studi kasus merupakan kunci keberhasilan sebuah studi kasus, dan penilai harus hati-hati dalam mempertimbangkan sejumlah isu yang ada. Termasuk mendefinisikan pertanyaan penelitian, menentukan unit analisis,memutuskan antara desain tungal ataupun multiple- kasus dan pemilihan lokasi.

 

1. Mendefinisikan Pertanyaan Penelitian dan PengembanganKerangka Studi

Sama halnya dengan penelitian lain, dalam merancang studi kasus langkah pertamaadalah mendefinisikan pertanyaan-pertanyaan yang akan ditangani oleh penelitian. seperti peninjauan literatur tentang masalah yang akan diteliti dan mengumpulkan bukti-bukti yang berkaitan dengan tujuan dan desain program yang sedang dievaluasi. Bisa dilakukan melalui wawancara dengan petugas program dan pemangku kepentingan lainnya untuk menginformasikan perkembangan isu tentang penelitian yang akan ditangani.

Kemudian dikembangkan suatu kerangka kerja untuk struktur pertanyaan penelitian yang akan dibahas dan hipotesis tentang program atau kasus yang diteliti. Nightingale dan Rossman menyatakan tidak ada seperangkat pertanyaan penelitian studi kasus yang dapat membimbing pada pengumpulan data.Logic Models dan model implementasi dapat berfungsi sebagai model diagram atau grafik untuk menentukan elemen-elemen kunci dari isu yang dibahas. Pada Gambar 1 disajikan kerangka konseptual untuk studi kasus dalam upaya untukmeningkatkan program, menjelaskan motivasi untuk perubahan, jenis perubahan dan hasil.

Penilai dapat menggunakan kerangka kerja ini untuk mengidentifikasi dan menetapkan dimensi apa yang akan pelajari dan laporkan. Dari dimensi ini pertanyaan penelitian dapat dikembangkan, klarifikasi dan jenis data yang dibutuhkan untuk menjawab setiap pertanyaan yang akan diidentifikasi. Kesulitan yang umum dalam penelitian studi kasus adalah mengumpulkan terlalu banyak informasi, baik informasi penting maupun informasi yang tidak relevan untuk memahami program atau acara yang sedang dipelajari. Kerangka kerja penelitian harus terstruktur untuk memfokuskan dan menentukan pengumpulan data dan menghindari masalah tersebut.

 

A. Melakukan Studi Kasus

Melakukan studi kasus yang mendalam tidak selalu murah, mudah, atau cepat. Studi kasusbisa memerlukan pengumpulan data yang panjang dan mendalam dan kepekaan terhadap pengaturan yang dapat menghabiskan banyak waktu untuk mengembangkannya. Penelitian studi kasus juga menuntut investasi waktu yang signifikan untuk analisis data, interpretasi, dan pelaporan. Berikut langkah-langkah penting dalam melakukan studi kasus.

1. Persiapan

Melakukan studi kasus yang sukses membutuhkan persiapan yang cermat, termasuk membentuk protokol dan prosedur yang jelas sebelum kegiatan lapangan, mengembangkan instrumen pengumpulan data, pelatihan staf untuk melakukan studi, dan jika memungkinkan, melakukan studi percontohan sebelum turun ke lapangan, dalam rangka untuk mengidentifikasi dan menghindari hambatan dan masalah.

a. Pengembangan Protokol dan Pengumpulan Data Instrumen

Protokol bertujuan untuk bagaimana data akan dikumpulkan di lapangan dan kemudian dapat digunakan untuk memandu peneliti melakukan penelitian. Terutama dalam studi multi kasus, protokol meningkatkan keandalan hasil dengan menyediakan keseragaman dan konsistensi dalam upaya pengumpulan data.

Protokol menyajikan tata letak prosedur umum untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk studi kasus, fokus pada data yang akan dikumpulkan di lapangan. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan:

1) Situs dalam penelitian

2) Sumber data yang akan dikumpulkan dalam setiap situs

3) Para responden yang penting untuk diwawancarai

4) Rencana untuk menyelesaikan jenis-jenis kegiatan pengumpulan data, seperti kelompok fokus dan pengamatan kegiatan program, informasi penelitian, dan kerahasiaan responden

5) Sebuah jadwal untuk menyelesaikan prosedur pengumpulan data di setiap situs.

Hal terpenting dari protokol adalah petunjuk pengumpulan data untuk wawancara harus terstruktur dan pertanyaan-pertanyaan substantif untuk ditanyakan harus disesuaikan dengan responden. Tujuan utama dari pertanyaan ini adalah untuk memastikan bahwa wawancara mencakup semua topik utama.

b. Kualifikasi Staf dan Pelatihan

Untuk penelitian studi kasus harus memiliki peneliti yang terlatih. Karena peneliti harus mampu membedakan apa yang penting dan apa yang tidak. Pertimbangan dan interpretatif keterampilan peneliti menentukan temuan dan kesimpulan penelitian. Yin (2003) mengidentifikasi beberapa keterampilan umum untuk evaluator studi kasus yang efektif, termasuk kemampuan untuk:

1) Mengajukan pertanyaan yang baik.

2) Jadilah pendengar yang baik (termasuk mampu membaca yang tersirat dan garis penyelidikan sesuai kebutuhan).

3) Jadilah adaptif dan fleksibel dalam situasi kehidupan nyata (seperti perubahan yang tak terduga - seperti kurangnya ruang kantor untuk melakukan wawancara).

4) Memiliki pemahaman yang kuat tentang isu-isu yang sedang diteliti.

5) Tidak menjadi bias.

Hal ini penting untuk memberikan pelatihan bagi budidaya staf saat kunjungan lapangan. Pelatihan harus mencakup:

1) Sebuah tinjauan dari pertanyaan penelitian

2) Sebuah tinjauan instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data

3) Strategi untuk mendapatkan dan mempertahankan kerjasama responden dan penanganan situasi tak terduga

4) Format untuk pelaporan narasi dan untuk mengambil catatan lapangan.

Pelatihan dan pengawasan berkelanjutan memastikan kontrol kualitas dan konsistensi pengumpulan data. Ini sangat penting dalam studi multi kasus yang membutuhkan tim staf lapangan.

c. Pengujian percontohan

Jika memungkinkan, uji coba menggunakan setiap metode pengumpulan data harus dilakukan agar daerah yang bermasalah dapat ditemukan dan diperbaiki. Pengujian percontohan membantu peneliti dalam mengantisipasi masalah utama dan peristiwa, mengidentifikasi orang-orang penting, menetapkan aturan untuk kerahasiaan, dan menunjukkan di mana strategi pengumpulan data harus diubah untuk melengkapiatau menambah jumlah pertanyaan penelitian. Pengujian percontohan juga berguna untuk mengidentifikasi dan apa jenis pertanyaan yang membingungkan responden.

2. Strategi Pengumpulan Data

Ciri dari studi kasus adalah gambaran mendalam tentang sebuah kasus. Menentukan sumber data yang digunakan dan bagaimana untuk mengumpulkan data sangat penting dalam merancang setiap studi kasus. Di sini kita meninjau berbagai sumber data yang biasanya digunakan dalam studi kasus, termasuk wawancara, review dokumen, observasi langsung, dan data program.

a. Wawancara

Wawancara adalah salah satu sumber informasi paling penting dalam studi kasus. Sebagian besar wawancara dalam studi kasus menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka, dimana responden diminta untuk mengomentari peristiwa-peristiwa tertentu, dan kesempatan untuk mengajukan solusi atau memberikan wawasan tentang peristiwa yang terjadi. Beberapa jenis pedoman wawancara semi-terstruktur umumnya digunakan untuk memandu peneliti agar berfokus pada topik utama. Wawancara umumnya dilakukan satu lawan satu, meskipun dalam beberapa kasus bisa melakukan wawancara dengan kelompok-kelompok individu yang mempunyai pengalaman sejenis. Misalnya, diskusi kelompok dengan beberapa staf yang memproses kasus tunjangan anak atau kelompok fokus dengan ibu-ibu yang baru menerima kunjungan ke rumahnya.

Komponen penting dari proses wawancara untuk studi kasus adalah waktu untuk mendapatkan berbagai kepentingan yang perspektif pada bidang utama penelitian. Evaluator perlu membuat catatan dengan hati-hati dan rinci. Karena sangat penting untuk menyampaikan kompleksitas dan esensi dari apa yang telah terjadi dalam sebuah wawancara.

b. Ulasan Dokumen

Dokumen berperan penting dalam menguatkan dan menambah data dari wawancara dan sumber-sumber lain. Dokumen dapat berupa grafik organisasi, surat-surat, memorandum, aplikasi hibah, kebijakan dan prosedur manual, materi pelatihan staf, agenda dan waktu perencanaan pertemuan, bahan perekrutan, deskripsi proyek dan jadwal, kurikulum, laporan statistik gabungan, artikel pers, temuan survei kepuasan pelanggan, atau dokumen lainnya. Dokumentasi semacam ini dapat menginformasikan proses penelitian di beberapa tahap penelitian. Selain itu, bahan-bahan tersebut dapat memberikan informasi kontekstual dan pemahaman yang lebih baik secara keseluruhan pelaksanaan dan proses operasional di sebuah situs.

c. Pengamatan langsung

Pengamatan kegiatan program menjadi komponen penting dari kegiatan pengumpulan data yang dilakukan selama kunjungan lapangan. Dengan pengamatan langsung, peneliti berkesempatan untuk melihat secara nyata, bagaimana staf menerapkan kebijakan dan prosedur dan bagaimana mereka berinteraksi dengan peserta. Misalnya, fokus pada interaksi staf dan klien; lokakarya program, atau sesi kelas. Pengamatan langsung dapat memberikan pandangan yang lebih akurat tentang operasi program bila dibandingkan dengan hasil dari wawancara dengan staf. Pengamatan langsung dapat menggunakan protokol formal. Protokol formal bisa melibatkan, misalnya, daftar topik observasi dan merekam aktivitas dan prosedur, termasuk praktek-praktek yang tidak diduga atau patut dicatat.

d. Data Program

Dalam beberapa evaluasi program komponen yang berguna dari studi kasus adalah pemahaman tentang tingkat dan jenis layanan yang diterima oleh para peserta program. Data program pada saat pendaftaran, layanan yang diterima, dan hasil program (informasi dikumpulkan untuk keperluan monitoring dan manajemen) dapat memberikan informasi yang sangat berguna untuk studi kasus.

B. Menganalisis data

Studi kasus dapat menghasilkan sejumlah data yang perlu dianalisis dengan teknik yang tepat agar dapat bermanfaat. Langkah pertamanya adalah untuk membuat database dari berbagai data kuantitatif dan kualitatif yang dikumpulkan termasuk catatan wawancara dan data program kuantitatif yang dikumpulkan.

Analisis data dapat membantu untuk mengatur dan menganalisis berbagai informasi dari data yang dikumpulkan. Dalam sebuah studi multi kasus, membandingkan program yang ada dalam konteks yang sangat berbeda dan mengadopsi pendekatan yang berbeda dapat menantang peneliti. Strategi untuk mengatur dan menganalisis data ini adalah sebagai berikut:

  1. Jelaskan setiap kasus secara rinci, dan berikan analisis isu atau tema pada setiap kasus dan menyajikan kasus-kasus pada kelompok yang ada.
  2. Fokus pada dimensi yang sedang diidentifikasi sebagai bagian dari desain penelitian, termasuk tabel analisis yang sistematis untuk setiap situs topik penelitian.
  3. Uraikan secara detail jadwal situs atau kronologi tahapan dari pengembangan dan pelaksanaan program.
  4. Siapkan diagram dari elemen desain program dan operasi.
  5. Lakukan pemetaanide peserta melalui unsur-unsur program.
  6. Lakukan pertemuan dengan staf lapangan untuk membahas temuan, interpretasi awal tim, kekuatan dan kelemahan dari berbagai bukti, dan interpretasi alternatif yang mungkin dilakukan.

Tahap analisis harus mencakup penyortiran data dalam berbagai cara untuk mengekspos atau membuat wawasan baru dan mencari data yang bertentangan untuk mengkaji ulang analisis. Beberapa teknik analisis dapat digunakan untuk mengidentifikasi temuan menuju arah kesimpulan. Strategi ini membantu para peneliti untuk mengembangkan temuan yang akurat dan dapat diandalkan. Seperti:

  1. Membandingkan berbagai sumber bukti sebelum memutuskan ada temuan yang dikenal sebagai triangulasi
  2. Menganalisis informasi dalam setiap kasus untuk tema, baik yang sama atau berbeda (Miller dan Salkind, 2002)
  3. Meneliti bagaimana pengumpulan data dan analisis temuan dibandingkan dengan harapan awal dari sebuah hipotesis
  4. Menganalisis semua informasi yang dikumpulkan untuk mengembangkan gambaran tentang apa yang terjadi dan mengapa, menggunakan informasi tersebut untuk struktur hipotesis
  5. Memastikan bahwa analisis membahas semua interpretasi utama, sehingga dapat dikesampingkan atau ditargetkan untuk studi tambahan

Menggunakan strategi ini memungkinkan peneliti untuk mensintesis, menganalisis, dan menyoroti temuan awal, tema, dan pelajaran. Selama proses evaluasi dan analisis, sangat penting bagi peneliti untuk tetap terbuka dengan interpretasi dan wawasan baru. Dalam semua kasus, untuk menghindari kesimpulan yang tidak akurat, peneliti harus menilai semua data yang tersedia untuk mengidentifikasi bukti yang mungkin tidak mendukung temuan awal. Analisis data berakhir ketika data cocok dengan observasi dan interpretasi (Kantor Akuntansi Umum AS, 1991; juga melihat Chapter Nineteen dalam buku ini).

C. Mempersiapkan Laporan

Melaporkan data studi kasus adalah dengan cara mengubah masalah yang kompleks menjadi mudah dipahami, yang memungkinkan pembaca untuk mempertanyakan dan memeriksa studi dan mencapai pemahaman independen peneliti. Laporan studi kasus dapat bervariasi secara signifikan dan detail, dan preferensi pemirsa mempunyai peran penting dalam mengembangkan struktur laporan studi kasus (Yin, 2003).

Di antara teknik umum untuk penataan laporan adalah (1) menangani setiap kasus dalam bab tersendiri, dengan bab terakhir meringkas kesimpulan antar situs, (2) memperlakukan studi kasus sebagai serangkaian peristiwa kronologis dan menjelaskan peristiwa ini secara berurutan, atau (3) mengidentifikasi tema tertentu atau area topik dan membahas setiap kasus dalam bidang tertentu.

Terlepas dari pendekatan organisasi, unsur-unsur berikut sangat penting untuk laporan:

1. Menempatkan setiap kasus dalam konteks atau pengaturan

2. Kegiatan pemilihan lokasi dan aktivitas pengumpulan data

3. Memberikan penjelasan yang eksplisit dari bukti utama yang digunakan untuk menarik kesimpulan

4. Memberikan interpretasi makna analisis dengan memberikan pelajaran

5. Menguraikan ada pembatasan atau memperingatkan tentang kesimpulan penelitian

loading...
artikel kejuruan

No comments:

Post a Comment

Search Post