Laman

2 Jan 2017

Perlunya Pendidikan Kewirausahaan

image

Kewirausahaan tidak muncul secara mendadak, akan tetapi melalui proses pembelajaran. Perlunya pendidikan kewirausahaan bagi setiap orang antara lain sebagai berikut :

a. Tenaga-tenaga wirausaha mempunyai kemampuan luar biasa. Oleh karena itu, sudah sewajarnya memberikan kesempatan kepada setiap manusia memiliki kepribadian wirausaha. Ilmu kewirausahaan dapat dibentuk, dilatih, dididik, dikembangkan dan ditingkatkan jumlahnya.

b. Seorang yang berjiwa wirausaha, diri sendirilah yang menjadikan seorang manusia yang berkepribadian dan berwatak unggul, memberikan kemampuan untuk membersihkan sikap mental negatif, serta meningkatkan daya saing dan daya juang untuk mencapai kemajuan.

c. Jiwa kewirausahaan merupakan salah satu bekal bagi seseorang dalam menjalani kehidupan.

d. Kewirausahaan adalah sumber peningkatan mutu kepribadian dan kemampuan usaha. Usaha penggalian kewirausahaan sangat mutlak diharapkan oleh setiap orang.

Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh oleh suatu masyarakat dan negara dengan adanya orang-orang yang berjiwa wira-usaha, antara lain sebagai berikut :

a. Sebagai generator dan sumber penciptaan serta perluasan kesempatan kerja.

b. Sebagai pelaksanaan pembangunan yang dapat dipercaya integritasnya dan berdedikasi memajukan lingkungannya.

c. Sebagai penolong orang lain agar orang lain mampu membantu dan menolong dirinya.

d. Sebagai pembayar pajak yang teratur.

e. Sebagai sumber tenaga manusia yang ideal.

Kecenderungan yang terjadi pada masyarakat, kebanyakan dari mereka lebih menginginkan pekerjaan yang mapan setelah menyelesaikan pendidikannya. Mereka tidak mau mengawali kehidupan setelah lulus dengan memulai suatu usaha. Kesuksesan seseorang mereka lihat dari ukuran seberapa makmur kehidupan orang tersebut, berapa besar gaji yang diperolehnya, apakah ia sudah memiliki mobil mewah atau rumah yang indah. Padahal, sukses tidaknya seorang wirausahawan bukan dilihat dari sudut pandang kemakmuran dan kesejahteraan seseorang. Namun lebih dinilai dari usaha apa yang telah diperbuat dalam pekerjaannya, baik itu dengan memulai suatu usaha sendiri atau lewat pekerjaan yang digelutinya.

Pendidikan kewirusahaan sekarang ini cenderung kepada bagaimana memulai suatu usaha dan mengelola usaha tersebut dengan baik. Wirausaha bukan berarti harus memiliki suatu usaha. Wirausahawan secara umum adalah orang-orang yang mampu menjawab tantangan-tantangan dan memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Bekerja keras unutk menjawab tantanga-tatangan yang ada dan memanfaatkan peluang-peluang yang ada dengan sebaik-baiknya tanpa harus melanggar aturan dan etika yang ada.

Pendidikan kewirausahaan sangatlah penting bagi wirausaha, agar mereka tidak meraba-raba dalam melakukan bisnis mereka. Dengan adanya pendidikan maka mereka akan mempertimbangkan semua yang akan mereka lakukan dengan matang. Pendidikan akan membentuk para wirausahawan atau pebisnis yang handal dan tangguh. Siap menghadapi tantangan yang akan mereka hadapi. Besar kecilnya resiko akan mereka pertinmbangkan matang-matang, melakukan segala hal dengan petunjuk yang mereka ketahui tanpa adanya kebimbangan yang tidak pasti.

1. Perlunya Pendidikan Kewirausahaan Sejak Dini

Jiwa wirausaha (entrepreneurship) harus ditanamkan oleh para orang tua dan sekolah ketika anak-anak mereka dalam usia dini. Kewirausahaan ternyata lebih kepada menggerakkan perubahan mental. Jadi tak perlu dipertentangkan apakah kemampuan wirausaha itu berkat adanya bakat atau hasil pendidikan.
Demikian salah satu kesimpulan yang terungkap dalam Parenting Seminar yang diselenggarakan Universitas Paramadina, di Jakarta, beberapa waktu lalu. Sebagai pembicara dalam seminar tersebut adalah CEO PT Graha Layar Prima Ananda Siregar, pakar kepribadian sekaligus Presiden Direktur Lembaga Pendidikan Duta Bangsa Mien R Uno, dan Presiden Direktur Kiroyan Kuhon Partners/PT Komunikasi Kinerja, Noke Kiroyan. Mien Uno mengatakan bahwa untuk menjadi wirausahawan andal dibutuhkan sebuah karakter unggul.

Karakter unggul tersebut adalah pengenalan terhadap diri sendiri (self awareness), kreatif, mampu berpikir kritis, mampu memecahkan permasalahan (problem solving), dapat berkomunikasi, mampu membawa diri di berbagai lingkungan, menghargai waktu (time orientation), empati, mau berbagi dengan orang lain, mampu mengatasi stres, bisa mengendalikan emosi, dan mampu membuat keputusan. Karakter tersebut, masih menurut Mien Uno, akan terbentuk melalui sebuah proses yang panjang. Dalam proses ini, orang tua anak perlu mengambil peranan. Orang tua perlu menyupervisi anak dengan memberi contoh yang baik dan menjaga agar ucapannya sama dengan tindakan. Selain itu, orang tua ikut memotivasi anak, mengevaluasi, dan memberikan apresiasi atas prestasi anak. Membangun jiwa kewirausahaan memang sangat penting, lebih-lebih dengan meningkatnya angka pengangguran terdidik.

Bagi sebagian orang, pendidikan bisa menjadi faktor pendorong kesuksesan untuk berwirausaha. Seseorang memang tidak perlu berpredikat sarjana untuk menjadi pengusaha, tetapi dengan latar belakang pendidikan akademik, berarti akan banyak kesempatan terbuka karena lebih luas wawasannya dalam melihat berbagai peluang bisnis yang ada.

Problem utama dalam membangun jiwa kewirausahaan adalah kurangnya kesadaran akan arti penting dan urgensinya menjadi pemuda yang mandiri dan berwirausaha. Kini masih banyak pemuda terdidik dari organisasi kepemudaan yang lebih berorientasi kepada pergerakan politik dan kekuasaan karena mereka cenderung memilih cara instan untuk menjadi terkenal dan politisi andal, tetapi dari aspek ekonomi mereka jauh tertinggal. Jadi, tahap awal yang harus dilakukan dalam memberdayakan pemuda adalah membangun jiwa pemuda yang mandiri dan menanamkan semangat hidup berwirausaha agar kemandirian mudah dibangun. Berarti pendidikan dalam konteks ini mestinya bukan sekadar untuk mencetak generasi terampil serta memiliki kompetensi tinggi, tetapi juga harus mampu mencetak generasi dengan jiwa wirausaha. Ikon bahwa sekolah hanya mencari ilmu, lantas mencari pekerjaan, harus diubah menjadi mencari ilmu dan mengaplikasikannya di lapangan. Dengan demikian, pendidikan nasional harus mampu membawa generasi terdidik untuk menciptakan pekerjaan.

Pendidikan kewirausahaan yang diajarkan sejak SD bisa mengubah tipe pendidikan nasional kita yang sudah terlanjur menjadi birokrasi minded karena melulu difokuskan untuk mencetak generasi baru yang hanya untuk mengisi kantor-kantor saja. Dengan fakta angka pengangguran terdidik yang makin melonjak dari tahun ke tahun, kini tipe pendidikan birokrasi minded tidak layak dibiarkan terus-menerus. Sekarang saatnya anak-anak sejak SD diajari untuk mengenal berbagai jenis kewirausahaan, sebagai alternatif menghadapi masa depan di luar cita-cita menjadi pegawai kantor. Mental priyayi sebagai konsekuensi dari birokrasi minded, yang selama ini menjadi tipe pendidikan nasional kita, harus mulai dihapus. Sebab faktanya menunjukkan, lowongan pekerjaan di kantor selalu terbatas. Sebaliknya, peluang kerja di luar kantor terbuka lebar untuk semua generasi.

Jika pendidikan nasional dibiarkan bertipe birokrasi minded, dikhawatirkan hanya akan menambah angka pengangguran terdidik dari tahun ke tahun. Masih terlalu banyak lulusan perguruan tinggi yang bermental priyayi, sehingga tidak bersedia merintis usaha kecil dan memilih menganggur sambil mondar-mandir keluar masuk kantor menawarkan surat lamaran kerja yang dilampiri ijasah sarjananya. Jika generasi muda dibiarkan bermental priyayi, ujung-ujungnya banyak di antara mereka yang hanya akan menjadi kuli di negara lain, sehingga makin menguatkan citra Indonesia sebagai bangsa kuli. Hal ini hanya bisa dihentikan dengan memberikan pendidikan kewirausahaan kepada anak-anak sejak SD. Betapa mental priyayi banyak dimiliki jajaran pendidik kita, sehingga bisa menjadi kendala untuk mengajarkan pendidikan kewirausahaan di sekolah-sekolah.

2. Meningkatkan Kualitas Pendidikan Kewirausahaan

Paradigma kewirausahaan saat ini terus diwacanakan dan bahkan telah menjadi bagian dari motto sejumlah lembaga pendidikan. Kelas kewirausahaan diselenggarakan oleh lembaga pendidikan formal kita khususnya universitas. Melalui pendidikan kewirausahaan yang terarah dan sistemik dengan komitmen sepenuh hati dari segenap civitas akademika di perguruan tinggi diharapkan nantinya lulusan S1 mampu menciptakan lapangan kerja bagi para pencari kerja atau minimal bagi dirinya sendiri.

Dengan demikian mereka menjadi insan-insan akademik yang mandiri dan mampu mensejahterakan dirinya dan orang lain. Mereka percaya diri untuk menumbuhkembangkan usahanya dan tidak berorientasi menjadi pegawai yang selama ini merupakan fenomena umum terjadi pada diri sebagian besar lulusan perguruan tinggi. Peluang untuk membuka lapangan kerja masih terbuka lebar bagi para mahasiswa yang mempunyai minat dan jiwa entrepreneurship tinggi. Dukungan segenap civitas akademika diperlukan agar menjadikan mahasiswa siap berwirausaha.

Pendidikan nasional menyebutkan bahwa negara kita menjadi negara pengekspor tenaga kerja yang kewirausahaan akan mendorong para pelajar dan mahapeserta didik agar memulai kurang “kreatif” sehingga berbagai permasalahan yang harus dihadapi mereka. mengenali dan membuka usaha atau berwirausaha. Pola pikir yang selalu beorientasi Sementara hampir 45% tanaga kerja kita saat ini tidak lulus Sekolah Dasar. Akibatnya, menjadi karyawan diputar balik menjadi berorientasi untuk mencari karyawan. Dengan produktivitas mereka juga rendah. Hal ini lebih lanjut berakibat pada rendahnya daya demikian kewirausahaan dapat diajarkan melalui penanaman nilai-nilai kewirausahaan saing Republik ini dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita seperti Thailand, yang akan membentuk karakter dan perilaku untuk berwirausaha agar para peserta Vietnam, Malaysia, Cina, dan lebih-lebih lagi Singapore. Pada tataran psikologis didik kelak dapat mandiri dalam bekerja atau mandiri usaha. semua orang mempunyai banyak sedikitnya potensi intrepreneur, namun potensi ini tidak akan muncul optimal atau bahkan hilang sama sekali jika tidak dikembangkan Hal yang tidak bisa dilupakan dan dirasakan sangat penting dalam konteks pendidikan iklim yang sesuai dengan perkembangan potensi itu.

Pendidikan yang intelektualitas yang berwawasan kewirausahaan di sekolah yaitu bahwa Kementerian Pendidikan yang cenderung sangat bersifat formal dengan membiarkan kemampuan kreativitas dan Nasional juga perlu membuat kerangka pengembangan kewirausahaan yang ditujukan inovasi peserta didik antara lain yang menyebabkan kondisi sosio-psikologis ini. Kata bagi kalangan pendidik dan kepala sekolah. Mereka adalah agen perubahan ditingkat kuncinya adalah pendidikan entrepreneur menjadi sebuah keniscayaan. sekolah yang diharapkan mampu menanamkan karakter dan perilaku wirausaha bagi jajaran dan peserta didiknya. Pendidikan yang berwawasan kewirausahan ditandai Pendidikan kewirausahaan akan memberikan peluang tumbuh dan berkembangnya dengan proses pendidikan yang menerapkan prinsip-prinsip dan metodologi kearah potensi kreativitas dan inovasi anak. Nilai-nilai kewirausahaan akan menjadi pembentukan kecakapan hidup (life skill) pada peserta didiknya melalui kurikulum karakteristik peserta didik yang dapat digunakannya dalam bersosialisasi dan terintegrasi yang dikembangkan di sekolah. berinteraksi dengan lingkungnnya. Pada akhirnya pribadi yang memiliki karakter kreatif, inovatif, bertangung jawab, disiplin dan kosisten akan mampu.

Pendidikan Kewirausahaan dalam Perspektif Sosio-Psikologis. kontribusi dalam pemecahan masalah sumber daya manusia Indonesia. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pendidikan kewirausahaan sangat berorientasi pada Analisis pascakolonial mengenai pendidikan menunjukan bahwa Indonesia belum sosio-psiklogis. Pendidikan kewirausahaan akan mereduksi mindset peserta didik dapat melepaskan diri dari tujuan pendidikan kolonial, yaitu menjadi pegawai dan tentang tujuan dan orientasi mengikuti pendidikan untuk menjadi pegawai negeri. bukan menjadi seseorang yang dapat berdiri sendiri. Kondisi sosio-psikologis ini Pendidikan kewirausahaan juga mempersiapakan peserta didik memiliki sikap sepertinya memberikan implikasi dalam tataran kehidupan sosial.

Dewasa ini terdapat kewirausahaan dan mampu mengembangkan seluruh potensi dirinya untuk menghadapi kecenderungan semakin tinggi seseorang mendapat pendidikan semakin besar masa depannya dengan segala problematikanya. Ini berarti pendidikan kewirausahaan kemungkinannya jadi penganggur. Apa yang menyebabkan republik yang kaya raya bersamaan dengan substansi pendidikan lainnya akan mereduksi sejumlah persoalan sumber daya alamnya ini namun masih tergolong negara berkembang yang miskin. sosiologis yang terkait dengan kehidupan sosial kemasyarakatan. Sebab itu, kemampuan sumber daya manusia yang pengembangan pendidikan kewirausahaan ini harus memperhatikan suasana psikologis tidak dapat memanfaatkan kekayaan alamnya itu. Setiap tahun angka kemiskinan relatif dan iklim sosial. bertambah, penggangguran tidak berkurang yang tentu saja memberikan implikasi lain bagi kehidupan sosial.

loading...
artikel kejuruan

No comments:

Post a Comment

Search Post