Laman

25 Sep 2017

Perencanaan dan Desain Evaluasi (PLANNING AND DESIGNING EVALUATION)

Evaluasi merupakan dimensi penting dari pendidikan. Evaluasi program pendidikan dapat dikatakan sebagai proses monitoring dan penyesuaian yang dikehendaki oleh para evaluator dalam menentukan atau meningkatkan kualitas pendidikan. Evaluasi menunjukkan seberapa baik program pendidikan berjalan dan menyediakan cara untuk memperbaikinya.

Mengacu pada konsep manajemen, proses evaluasi pendidikan dapat dibagi menjadi tiga bagian utama: Perencanaan (Planning), Implementasi (Implementing), dan Evaluasi (Evaluating). Jadi dalam proses ini kita mulai dengan merencanakan evaluasi, mengimplementasikan evaluasi, dan mengevaluasi evaluasi. Kita perlu merencanakan dan melaksanakan evaluasi secara sistematis dengan cara (a) mengidentifikasi kebutuhan, (b) memilih strategi yang tepat dari berbagai alternatif, (c) memonitor perubahan yang muncul, dan (d) mengukur dampak dari perubahan tersebut. Mengevaluasi evaluasi berarti bahwa evaluasi itu hendaknya memang harus dievaluasi (meta-evaluation).

Jelas bahwa proses perencanaan evaluasi merupakan bagian yang paling penting dalam proses evaluasi secara keseluruhan. Kita harus memiliki perencanaan evaluasi yang baik sebelum hal tersebut diimplementasikan. Dengan perencanaan yang baik, diharapkan bahwa implementasi evaluasi akan berjalan lancar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam merencanakan suatu evaluasi yaitu (1) menentukan tujuan evaluasi, merumuskan masalah, (2) menentukan jenis data, (3) menentukan sampel evaluasi, (4) menentukan model evaluasi sesuai dengan tujuan evaluasi, (5) menentukan alat evaluasi, (6) merencanakan personal evaluasi, (7) merencanakan anggaran, dan (8) merencanakan jadwal kegiatan.

Manfaat Perencanaan Evaluasi

1. Pengertian Perencanaan Evaluasi

Sebelum kita berbicara mengenai perencanaan evaluasi, kita perdalam lebih dahulu istilah rencana dan perencanaan. Kita pahami bahwa rencana adalah “a detailed proposal for doing or achieving something” artinya suatu rancangan rinci untuk melakukan sesuatu atau mencapai sesuatu. Hal tersebut menyatakan bahwa perencanaan berarti proses merencanakan sesuatu. Harus diketahui bahwa perencanaan merupakan suatu cara untuk memproyeksi maksud dan tujuan. Seperti yang telah diketahui, perencanaan berkaitan dengan konsep masa depan, masalah-masalah yang memerlukan imajinasi dan pilihan (choice), pemikiran yang ditujukan ke masa depan, dan proses mencapai suatu tujuan. Oleh karena itu, perencanaan mencerminkan upaya yang penuh pertimbangan. Perencanaan diakui sebagai cara yang paling handal (reliable) untuk mewujudkan tujuan dan sasaran. Perencanaan merupakan suatu cara untuk menentukan serangkaian tindakan untuk mengarahkan tindakan tersebut agar sesuai dengan visi.

Ackoff menyatakan bahwa walaupun perencanaan itu merupakan suatu proses pembuatan-keputusan, perencanaan adalah jenis pembuatan keputusan khusus: (a) perencanaan merupakan sesuatu yang kita lakukan sebelum bertindak, artinya adalah pembuatan keputusan yang sifatnya antisipatif; (b) perencanaan diperlukan bila keadaan masa depan yang kita inginkan tersebut melibatkan sejumlah putusan yang saling berkaitan, artinya suatu sistem keputusan; dan (c) perencanaan merupakan suatu proses yang diarahkan untuk menghasilkan keadaan di masa depan yang diinginkan, dan tidak diharapkan muncul kecuali ada suatu tindakan yang dilakukan.

Jelaslah bahwa dengan perencanaan yang matang, tindakan yang kita lakukan biasanya akan mulus dan lancar, kecuali ada hal-hal lain yang tidak kita perhitungkan sebelumnya atau yang memang tidak bisa kita antisipasi (dalam batas-batas kemampuan kita sebagai manusia). Sebagai contoh, Anda mungkin pernah mendengar bahwa dengan perencanaan yang matang, berarti 50% dari pekerjaan kita sudah selesai, sisanya tinggal implementasi dan evaluasi.

Setelah kita mengenal konsep dan pengertian perencanaan, kita ulang sekilas mengenai konsep evaluasi itu sendiri. Dalam hal ini, evaluasi pendidikan biasanya dibagi menjadi dua kategori umum: evaluasi sumatif (setelah) dan evaluasi formatif (selama). Bila kita melakukan evaluasi dalam jangka panjang, biasanya kita berkenaan dengan evaluasi sumatif, yaitu evaluasi yang muncul pada beberapa titik-akhir suatu proyek, program, atau mata pelajaran yang dapat diidentifikasi. Sebagai contoh, ujian komprehensif akhir dan nilai akhir siswa, kinerja tahunan dan penilaian kinerja guru, dan penilaian program dalam bentuk evaluasi sumatif dalam pendidikan.

Evaluasi sumatif biasanya dilakukan dengan maksud membuat penilaian mengenai keseluruhan aktivitas dan program. Pengumpulan dan analisis biasanya ditujukan pada pengukuran hasil dan tingkat pencapaian dengan mengacu pada tujuan dan standar tertentu yang telah dipahami. Hasil penilaian melalui proses ini dijadikan dasar formal untuk membuat keputusan. Contoh dari putusan ini antara lain yang berkenaan dengan apakah suatu program itu akan dilanjutkan atau dihentikan, aktivitas sekolah, penilaian guru, penempatan siswa, dan kenaikan kelas atau naik pangkat. Putusan ini juga bisa menjadi dasar untuk penilaian komparatif, mengganti kurikulum lama dengan kurikulum baru berdasarkan perbandingan yang dilakukan dari berbagai segi.

Evaluasi formatif, sebaliknya, mengacu pada evaluasi yang muncul selama proses atau produk itu dirancang. Evaluasi formatif biasanya digunakan untuk memperbaiki pengembangan, dan dapat dikatakan sebagai evaluasi berkelanjutan yang mengiringi upaya pengembangan atau proses perubahan yang lebih besar.

Evaluasi formatif sangat banyak digunakan, misalnya, saat melakukan implementasi program atau sistem pengajaran baru. Melalui pengukuran formatif, guru dan administrator dapat memonitor kemajuan dari upaya implementasi. Pengukuran ini bermanfaat bagi para praktisi untuk mendeteksi dan memecahkan masalah sebelum masalah itu bertambah buruk tanpa kendali. Evaluasi formatif juga banyak digunakan dalam kaitannya dengan program pengembangan staf dan perubahan organisasi. Yang lebih penting, evaluasi formatif sangat berkaitan dengan perkembangan siswa.

Selain evaluasi sumatif dan formatif, Tuckman (1985) menyarankan jenis evaluasi lainnya: ex post facto evaluation (after the fact – setelah fakta). Metode ini melihat proses kejadian-kejadian dan data secara longitudinal untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan pendidikan. Evaluasi ini biasanya digunakan untuk mendapatkan informasi dan memeriksa penilaian yang dibutuhkan untuk perencanaan pendidikan, untuk mencatat hasil, kecenderungan (trend), dan arah masalah.

Perencanaan akan senantiasa diperlukan jika seorang guru memutuskan untuk melakukan prosedur evaluasi seperti evaluasi sejumlah siswa, tugas-tugas selama satu semester, keberhasilan mengajar, dan sebagainya. Setidaknya perencanaan ini hendaknya melibatkan sejumlah hasil pembelajaran yang diinginkan dan teknik-teknik yang digunakan dalam mengevaluasinya.

Baik evaluasi formatif maupun sumatif dapat dilakukan untuk tujuan motivasional dan tujuan korektif. Kombinasi dari kedua tujuan ini disajikan pada Tabel di bawah ini.

Metode

Fungsi dan Tujuan

Motivasional

Korektif

Fungsi

Formatif

a. Meningkatkan kinerja individu.

b. Meningkatkan efisiensi.

c. Menentukan tujuan di masa depan.

a. Memodifikasi kinerja yang buruk.

b. Menentukan masalah-masalah operasi dalam suatu program baru.

Fungsi

Sumatif

a. Menghargai kinerja yang unggul.

b. Menentukan tingkat pencapaian tujuan.

c. Menjamin status (kepegawaian, kesiswaan).

a. Menghilangkan kelemahan

dalam suatu program

b. Menentukan kelemahan dalam suatu program

c. Menentukan kebutuhan dan prioritas lembaga

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa maksud dari perencanaan evaluasi adalah menguraikan strategi mengenai cara mendapatkan dan menganalisis data yang akan membantu meningkatkan efektivitas dari suatu evaluasi program pendidikan. Termasuk ke dalam perencanaan evaluasi ini adalah: (1) penjelasan mengenai perlunya evaluasi dan tanggung jawab melakukan evaluasi; (2) penentuan batasan evaluasi dan analisis konteks evaluasi; (3) identifikasi pertanyaan, kriteria, dan masalah evaluatif; (4) perencanaan pengumpulan, analisis dan interpretasi informasi; dan (5) mengembangkan team manajemen perencanaan evaluasi, termasuk penentuan waktu, anggaran dan biaya, personel, serta menentukan penilaian, monitoring, dan perbaikan perencanaan evaluasi sampai mendapatkan suatu kesepakatan mengenai prosedur evaluasi yang akan dilakukan.

2. Pentingnya Perencanaan Evaluasi

Dalam memberi penjelasan mengenai perlunya evaluasi dan tanggung jawab melakukan evaluasi, kita perlu memahami asal-mula dan alasan mengapa suatu studi evaluasi itu dilakukan, lalu menilai apakah alasan itu layak atau tidak. Jika layak, maka dibuatlah perencanaan; jika tidak evaluator harus bisa mengemukakan alasan bahwa studi evaluasi yang diajukan tersebut memang tidak perlu dilakukan. Untuk memperjelas pembahasan, kita perlu membedakan beberapa kelompok atau individu yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh suatu studi evaluasi, yaitu: sponsors, clients, participants, stakeholders, dan audiences.

Sponsor evaluasi adalah badan atau perorangan yang memiliki wewenang evaluasi dan menyediakan sumberdaya keuangan yang dibutuhkan untuk jalannya evaluasi. Sponsor ini bisa saja memilih evaluator atau terlibat dalam evaluasi tersebut, tetapi pada akhirnya merekalah yang memiliki wewenang yang berkaitan dengan evaluasi, kecuali jika mereka mendelegasikan wewenang tersebut.

Klien adalah badan atau perorangan tertentu yang memerlukan dan meminta evaluasi. Dalam beberapa hal, sponsor dan klien ini bisa saja badan atau lembaga yang sama, tetapi tidak selalu begitu. Sebagai contoh, dalam evaluasi pihak ketiga mengenai program persekolahan bagi anak berbakat di suatu kota, dinas pendidikan (klien) mungkin meminta dan menyusun studi evaluasi, tetapi sumberdaya dan pembiayaan untuk evaluasi tersebut berasal dari departemen pendidikan nasional (sponsor).

Dalam melakukan evaluasi, evaluator itu sendiri yang melaksanakannya. Tetapi di sini kita gunakan istilah partisipan untuk mengacu pada mereka yang berinteraksi dengan evaluator selama perencanaan dan pelaksanaan evaluasi. Termasuk ke dalam partisipan adalah klien (setidaknya selama tahap-tahap perencanaan) dan orang-orang yang menjadi sumber pengumpulan data (misalnya siswa yang ikut dalam suatu ujian atau yang mengisi kuesioner).

Stakeholder adalah mereka yang secara langsung dipengaruhi oleh hasil evaluasi. Kepala sekolah, guru, dan orangtua termasuk ke dalam stakeholder. Sponsor, klien, dan partisipan biasanya adalah stakeholder juga, tetapi beberapa stakeholder tidak termasuk ke dalam kelompok tersebut. Sebagai contoh, dimungkinkan (walaupun tidak bijaksana) untuk mengevaluasi program sekolah bagi siswa berbakat tanpa interaksi dengan gurunya. Jelas, guru tersebut akan banyak dipengaruhi oleh hasil dari studi evaluasi tersebut, sehingga mereka memang adalah stakeholders, walaupun mereka bukan partisipan.

Audiens adalah individu, kelompok, dan lembaga yang memiliki kepentingan dalam evaluasi dan menerima hasilnya. Sponsor dan klien biasanya merupakan audiens utama dan kadang-kadang merupakan satu-satunya audiens. Biasanya audiens suatu evaluasi akan juga melibatkan semua stakeholder dan partisipan, walaupun tidak selalu begitu. Sebagai contoh, siswa SD mungkin menjadi partisipan dalam evaluasi mata pelajaran membaca. Mereka diamati, dites, atau diwawancara. Tetapi hanya dalam cakupan tertentu saja mereka menunjukkan ketertarikan atau kepentingan terhadap hasil evaluasi tersebut.

Kita, sebagai evaluator, bisa mengakomodasi kepentingan berbagai kelompok atau individu tersebut. Memahami tujuan evaluasi adalah salah satu wawasan paling penting yang harus dimiliki seorang evaluator. Hal ini bisa diperkuat dengan pertanyaan seperti: Siapa yang membutuhkan? Apa yang mereka ingin tahu?

Dalam hal ini, tugas penting seorang evaluator adalah menjelaskan tujuan dan prosedur yang akan dilakukan kepada klien. Jika sponsor atau klien telah memahami tujuan dan prosedur tersebut, penting juga bagi seorang evaluator untuk memahami motivasi mereka melakukan evaluasi. Evaluator dapat melakukan hal tersebut dengan mengkaji pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Mengapa evaluasi ini diperlukan? Apa tujuannya? Apa pertanyaan yang akan dijawab oleh evaluasi tersebut?

2. Apa kegunaan dari temuan evaluasi yang dilakukan? Digunakan oleh siapa?

Siapa lagi yang seharusnya diberi informasi mengenai hasil evaluasi ini?

3. Apa yang akan dievaluasi? Apa saja yang terlibat? Apa yang tidak terlibat?

Berapa lama jangka waktunya? Di mana? Untuk siapa objek ini dimaksudkan? Siapa yang akan ikut serta (berpartisipasi)? Apa tujuan dan sasarannya? Kebutuhan apa saja yang harus dipenuhi? Siapa yang bertanggung jawab? Sudahkah hal tersebut dievaluasi sebelumnya?

4. Berapa banyak waktu dan uang yang tersedia untuk evaluasi ini? Siapa yang bersedia membantu pelaksanaan evaluasi ini? Apakah ada beberapa informasi yang harus segera diketahui?

5. Bagaimana iklim politik dan konteks seputar evaluasi? Adakah faktor dan kekuatan politik (peraturan) yang mengatur pelaksanaan evaluasi dan standar hasil evaluasi?

  1. Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya merupakan contoh saja. Evaluator bisa saja menambah atau mengurangi pertanyaan itu. Yang penting adalah bahwa evaluator bisa memahami tujuan evaluasi. Brinkerhoff et al (1983) menyatakan bahwa tujuan evaluasi itu dianggap valid jika memenuhi kriteria berikut:
     
    1). Jelas (dipahami oleh para audiens utama)
    2). Bisa diperoleh atau accessible (disebarkan kepada mereka yang berhak tahu)
    3). Berguna (informasi yang dihasilkan akan dipakai dan diterapkan)

    4). Relevan (dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan informasi yang berkaitan dengan program)
    5). Manusiawi (dapat dicapai tanpa merugikan mereka yang terlibat atau dipengaruhi)
    6). Kompatibel (sesuai dengan tujuan sponsor, klien, partisipan, dan stakeholder)
    7). Bermanfaat (keuntungannya lebih besar dari biayanya)

Sebagai contoh lain, sebagai evaluator yang sedang mengembangkan suatu perencanaan evaluasi, kita bisa mengkaji manfaat perencanaan evaluasi dengan mempertimbangkan beberapa pertanyaan berikut:

1. Mengapa kita harus membuat perencanaan evaluasi?

2. Kapan kita seharusnya mengembangkan suatu perencanaan evaluasi?

3. Siapa saja pihak-pihak yang berkaitan dengan evaluasi dan kepentingan mereka dalam evaluasi tersebut?

4. Bagaimana cara Anda mengembangkan perencanaan evaluasi?

5. Bagaimana Anda menentukan batasan waktu untuk aktivitas evaluasi?

6. Hasil apa yang diharapkan dari evaluasi tersebut?

7. Jenis standar apa yang seharusnya Anda ikuti?

Secara garis besar ada beberapa langkah umum untuk mengembangkan perencanaan evaluasi diantaranya:

1. Menentukan tujuan evaluasi

2. Merumuskan masalah evaluasi

3. Menentukan jenis data yang akan dikumpulkan

4. Menentukan sampel sesuai dengan tujuan evaluasi

5. Menentukan model evaluasi sesuai dengan tujuan evaluasi

6. Menentukan alat evaluasi

7. Merencanakan personal evaluasi

8. Merencanakan anggaran

9. Merencanakan jadwal kegiatan

Berkaitan dengan metode yang akan digunakan dalam evaluasi, berikut ini adalah beberapa metode (pengumpulan data) yang secara umum dapat digunakan:

a. Survey/Skala sikap: yaitu survey kepuasan siswa dengan tujuan yang dicapai, kepuasan siswa dengan proses evaluasi, kepuasan siswa dengan hasil evaluasi, dan survey perilaku.

b. Wawancara terstruktur: misalnya wawancara dengan peserta evaluasi pendidikan.

c. Catatan/Laporan: misalnya sistem monitoring, laporan pencapaian tujuan.

d. Observasi langsung: Ini mengacu pada observasi langsung oleh evaluator.

Berikut ini adalah beberapa penjelasan dari beberapa desain eksperimental:

a. Studi kasus: merupakan suatu analisis mendalam dari awal sampai akhir mengenai seorang siswa, sekelompok siswa, satu sekolah yang memfokuskan pada faktor-faktor pengembangan dalam hubungannya dengan lingkungan—biasanya digunakan untuk menjawab pertanyaan bagaimana dan mengapa?

b. Kelompok Kontrol Pra-/Postes: memonitor sekelompok siswa yang sesuai dengan populasi target yang tidak dilibatkan dalam proses evaluasi tertentu, sehingga Anda dapat membandingkannya dengan orang yang terlibat dalam evaluasi, yang bisa membantu Anda dalam mendapatkan gagasan yang lebih baik mengenai seberapa besar pengaruh yang terjadi.

c. Time Series: merupakan pengaruh yang diukur dari suatu rentang waktu yang diambil sebelum maupun setelah dilakukan evaluasi.

Apapun pendekatan yang Anda gunakan, perencanaan evaluasi yang

Anda lakukan akan sangat bergantung pada informasi yang perlu Anda

kumpulkan untuk membuat berbagai keputusan penting. Dalam hal ini, sponsor, klien, partisipan, atau stakeholder berkepentingan untuk membuat keputusan utama yang berkaitan dengan, misalnya, relevansi kurikulum, berkurangnya pendanaan pendidikan dari pemerintah, kebutuhan pendidikan yang belum terpenuhi, mutu layanan pembelajaran yang rendah, dan sebagainya. Sebagai evaluator, apakah Anda ingin mengetahui lebih lanjut mengenai apa yang terjadi dengan program atau aktivitas tersebut, apakah suatu program pendidikan berhasil mencapai tujuannya, apa dampak program pendidikan terhadap siswa dan guru, dan sebagainya? Pada akhirnya, Andalah yang menentukan hal tersebut.

Lebih lanjut, dalam pelaksanaannya evaluasi akan melibatkan metodologi kuantitatif dan kualitatif untuk memberikan informasi sesuai dengan tujuan formatif maupun sumatif. Keseluruhan tujuan evaluasi itu harus (1) menentukan akuntabilitas evaluasi dalam menilai setiap kemajuan dalam memenuhi tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam perencanaan, (2) mengukur persepsi mengenai efektivitas implementasi dari perencanaan evaluasi, (3) mengukur dampak dari implementasi terhadap warga sekolah dan kebijakan sekolah, (4) menentukan faktor-faktor dan kebijakan yang merintangi dan/atau yang memudahkan pencapaian keberhasilan dari rencana evaluasi, dan (5) mengidentifikasi hasil yang tidak diharapkan dari pelaksanaan evaluasi.

3.Beberapa Jenis Pendekatan Evaluasi sebagai Pertimbangan dalam Perencanaan Evaluasi

Dalam membuat perencanaan evaluasi, selain jenis informasi yang akan dikumpulkan, kita juga harus mempertimbangkan pendekatan evaluasi yang nantinya akan kita lakukan. Pada dasarnya, ada tiga jenis pendekatan evaluasi yang bisa dipertimbangkan dalam perencanaan evaluasi, yaitu (1) goal-based evaluation, (2) process-based evaluation, dan (3) outcome-based evaluation. Dalam hal ini Anda tidak hanya sekedar mengambil salah satu jenis pendekatan yang ada, tetapi Anda harus mengaitkannya dengan tujuan dilakukannya suatu evaluasi. Berikut ini akan dibahas satu per satu jenis pendekatan evaluasi yang memungkinkan untuk menyempurnakan perencanaan evaluasi.

a. Goal-based Evaluation.

Pendekatan ini berkaitan dengan pencapaian seluruh tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Beberapa pertanyaan yang diajukan saat Anda merencanakan suatu evaluasi bila akan menggunakan pendekatan ini adalah: Bagaimana cara menentukan tujuan dan sasaran program? Apakah proses ini akan efektif?

clip_image002[7] Apa kriteria dari kemajuan program dalam mencapai tujuan tersebut?

clip_image002[8] Akankah tujuan tersebut dicapai sesuai dengan batas waktu yang ditentukan dalam implementasi program? Jika tidak, mengapa?

clip_image002[9] Apakah evaluator memiliki cukup sumberdaya (dana, peralatan, fasilitas, pelatihan, dsb.) untuk mencapai tujuan tersebut?

clip_image002[10] Bagaimana mengubah prioritas agar program bisa lebih fokus dalam mencapai tujuan tersebut? (pertanyaan ini bisa dianggap sebagai putusan manajemen ketimbang suatu pertanyaan evaluasi.)

clip_image002[11] Apakah batas waktu bisa diubah (hati-hati dalam membuat perubahan ini karena hal ini berkaitan dengan penjadwalan)?

clip_image002[12] Bagaimana mengubah tujuan tersebut (ketahui upaya-upaya yang mungkin bisa mempengaruhi pencapaian tujuan sebelum Anda memutuskan untuk mengubah tujuan)? Apakah ada tujuan yang bisa ditambahkan atau dikurangkan? Apa alasannya?

(2) Process-based Evaluation.

Process-based evaluations digunakan untuk memahami secara mendalam bagaimana suatu program berjalan. Evaluasi ini akan berguna jika suatu program bersifat sangat lama dan telah berubah selama bertahun-tahun. Sebagai contoh, Anda mungkin merencanakan evaluasi berbasis proses untuk mengetahui implementasi kurikulum berbasis kompetensi di suatu sekolah menengah selama 3 tahun. Di sini Anda bisa mengevaluasi sejauh mana kompetensi para guru untuk melaksanakan kurikulum berbasis kompetensi ini, bagaimana dampak dari pelaksanaan kurikulum itu terhadap siswa, atau apa alasan guru untuk tidak melaksanakan KBK. Sebelum Anda melakukan evaluasi jenis ini, Anda hendaknya menguji pendekatan ini dalam satu atau dua program sebelum Anda menerapkannya pada seluruh program.

4. Format Perencanaan Evaluasi

Perencanaan evaluasi hendaknya didokumentasikan dengan baik agar bisa memastikan evaluasi bisa dilaksanakan secara rutin dan efisien. Perencanaan itu hendaknya memuat cukup informasi sehingga pihak luar (non- evaluator) dapat memahami apa yang akan Anda evaluasi dan cara mengevaluasinya. Anda bisa menggunakan format berikut ini dalam laporan perencanaan evaluasi Anda:

1. Halaman Judul (nama organisasi yang akan dievaluasi, produk/layanan/

program yang akan dievaluasi; tanggal)

2. Daftar Isi

3. Executive Summary (satu halaman, sinopsis singkat mengenai temuan atau rekomendasi)

4. Tujuan dari Laporan Perencanaan Evaluasi (jenis evaluasi yang akan dilakukan, kegunaan dari temuan evaluasi, dsb.)

5. Latar Belakang mengenai Lembaga dan Produk/Layanan/Program yang akan dievaluasi

a) Sejarah/Gambaran Lembaga

b) Deskripsi Produk/Layanan/Program (yang akan dievaluasi)

i) Perumusan Masalah

ii) Keseluruhan Sasaran dari Produk/Layanan/Program

iii) Outcomes (or dampak bagi klien) and Pengukuran Kinerja (yang dapat diukur sebagai indikator outcomes)

iv) Aktivitas/teknologi dari Produk/Layanan/Program (gambaran umum mengenai cara mengembangkan dan melaksanakan produk/layanan/ program)

v) Staffing (uraian jumlah staff yang akan melakukan evaluasi dan peran lembaga yang relevan dengan produk/layanan/program)

6. Keseluruhan Sasaran Evaluasi (mis., apa pertanyaan yang akan dijawab oleh evaluasi tersebut)

7. Metodologi

a) Jenis data/informasi yang akan dikumpulkan

b) Bagaimana data/informasi dikumpulkan (instrumen apa yang akan digunakan, dsb.)

c) Bagaimana data/informasi akan dianalisis

d) Keterbatasan evaluasi (mis., yang berkaitan dengan temuan/simpulan dan cara menggunakan temuan/simpulan, dsb.)

8. Interpretasi dan Kesimpulan (dari analisis data/informasi)

9. Rekomendasi (yang berkaitan dengan putusan yang harus dibuat mengenai produk/layanan/program)

10. Lampiran: isi lampiran bergantung pada tujuan laporan perencanaan evaluasi, misalnya:

a) Instrumen yang akan digunakan untuk mengumpulkan data/informasi b) Data, misalnya, dalam format tabel, dsb.

c) Pernyataan, komentar yang dibuat oleh para pengguna produk/

layanan/program

d) Studi kasus pengguna yang telah menggunakan produk/

layanan/program

e) Literatur yang berkaitan

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa membuat perencanaan evaluasi itu memang merupakan suatu langkah yang sangat penting. Dengan kata lain, perencanaan evaluasi akan memudahkan evaluator dalam melakukan implementasi evaluasi untuk subjek tertentu dalam kurun waktu tertentu. Terakhir, hal yang tidak boleh dilupakan evaluator dalam membuat perencanaan tentunya adalah membuat jadwal pelaksanaan evaluasi pendidikan dan tetap mempertahankan pelaksanaan itu agar sesuai dengan perencanaan evaluasi.

C. LANGKAH-LANGKAH PERENCANAAN EVALUASI

Tahap-tahap utama dalam perencanaan evaluasi adalah:

1. Menentukan tujuan evaluasi

2. Merumuskan masalah evaluasi

3. Menentukan jenis data yang akan dikumpulkan

4. Menentukan sampel sesuai dengan tujuan evaluasi

5. Menentukan model evaluasi sesuai dengan tujuan evaluasi

6. Menentukan alat evaluasi

7. Merencanakan personal evaluasi

8. Merencanakan anggaran

9. Merencanakan jadwal kegiatan

1. Menentukan Tujuan Evaluasi

Memahami tujuan evaluasi adalah salah satu wawasan paling penting yang harus dimiliki seorang evaluator. Apapun bentuk dan pendekatan evaluasi, penentuan tujuan evaluasi akan selalu berkenaan dengan apa yang diharapkan dari pelaksanaan suatu evaluasi, yaitu output (misalnya; produk pembelajaran, dokumentasi siswa/guru, dsb.) dan outcome (misalnya; efektivitas/efisiensi pembelajaran siswa, perubahan sikap siswa, perubahan kinerja dan sikap guru, perubahan kelembagaan, posisi di dunia pendidikan dan dunia kerja, dsb.). Agar lebih jelas, berikut ini adalah contoh dari penentuan tujuan evaluasi yang berkaitan dengan kurikulum.

Tujuan: Menguraikan kelemahan atau kekurangan dari kurikulum yang sekarang digunakan, dengan fokus pada kegagalan pembelajaran siswa.

Pertanyaan: Apa kebutuhan pembelajaran dan mengapa kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi oleh pengajaran/pembelajaran yang ada? Dalam hal ini analisis kurikulum hendaknya menghasilkan suatu pernyataan yang jelas dari outcome pembelajaran yang diinginkan, misalnya tujuan pembelajaran.

2. Merumuskan Masalah Evaluasi

Masalah evaluasi bisa dilihat dari fenomena yang terjadi. Dengan mengacu pada contoh sebelumnya, yaitu masalah kurikulum, dapat dilihat bahwa masalah yang terjadi adalah rendahnya mutu pembelajaran siswa atau bahwa hasil pembelajaran tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan. Dengan demikian, di sini diperlukan suatu upaya untuk meningkatkan mutu pembelajaran siswa dalam kaitannya dengan menganalisis kelemahan atau kekurangan dari kurikulum yang sekarang digunakan. Dalam hal ini, evaluator bisa merumuskan masalah tersebut dengan melakukan analisis diri, analisis dari rekan sejawat, dari para ahli, atau dari tinjauan literatur pendidikan, dengan fokus pada muatan kurikulum, aktivitas pengajaran/pembelajaran, dan penilaian. Setelah merumuskan masalah, evaluator bisa melanjutkan dengan menentukan jenis data yang akan dikumpulkan untuk kepentingan evaluasi tersebut.

3. Menentukan Jenis Data yang Akan Dikumpulkan

Pada tahap ini evaluator mengidentifikasi data/informasi sesuai dengan kebutuhan dan variabel yang akan dievaluasi. Jenis data secara umum adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Di sini evaluator memilih dan/atau mengembangkan metode pengumpulan data (instrumen), mengidentifikasi sumber-sumber informasi yang tepat (dari siapa, oleh siapa) dan cara mengumpulkannya, organisasi hasil informasi evaluasi, serta analisis dan interpretasi hasil informasi evaluasi.

4. Menentukan Sampel

Sampel digunakan bila kita akan mengevaluasi sebagian dari populasi yang menjadi subjek atau objek evaluasi, dengan memperhatikan sifatnya yang homogenitas dan heterogenitas. Evaluator juga menentukan teknik pengambilan sampel (sampling) yang cocok diambil. Sebagai contoh, Anda bisa menentukan desain sampling yang akan diambil dari sejumlah populasi dengan menggunakan teknik-teknik seperti random sampling, stratified sampling, proportional sampling, dengan memperhatikan pendekatan seperti judgment sampling (ditarik berdasarkan pertimbangan para ahli) dan probability sampling (ditarik berdasarkan probabilitas) serta haphazard sampling (berdasarkan aksesibilitas sampel yang dapat diambil).

5. Menentukan Model Evaluasi

Penentuan modal evaluasi sangat berkaitan dengan berbagai pendekatan evaluasi. Evaluator hendaknya memahami berbagai pendekatan dalam evaluasi, kekuatan dan kelemahan setiap pendekatan. Berikut ini adalah pendekatan- pendekatan utama dalam evaluasi:

a. Pendekatan yang berorientasi pada tujuan, yang fokusnya adalah menentukan tujuan dan sasaran dan pencapainnya.

b. Pendekatan yang berorientasi pada manajemen, yang fokus utamanya adalah pada identifikasi dan pemenuhan kebutuhan informasi bagi para pembuat keputusan manajerial.

c. Pendekatan yang berorientasi pada klien, yaitu yang masalah utamanya adalah mengembangkan informasi evaluasi dalam ―produk-produk‖ pendidikan, untuk Digunakan oleh pengguna pendidikan dalam memilih kurikulum (misalnya kurikulum berbasis kompetensi), produk-produk pembelajaran, dan sebagainya.

d. Pendekatan yang berorientasi pada para ahli, yang sangat bergantung pada penerapan langsung dari para profesional dalam menilai kualitas pendidikan.

e. Pendekatan yang berorientasi pada lawan atau pesaing, yaitu sebagai kontra atau penyeimbang dari pendekatan yang berorientasi pada para ahli pada umumnya (pro dan kontra).

f. Pendekatan naturalistik yang berorientasi pada partisipan, yaitu bahwa keterlibatan partisipan merupakan penentu utama dalam nilai-nilai, kriteria, kebutuhan, dan sifat data untuk evaluasi.

6. Menentukan Alat Evaluasi

Alat evaluasi yang umumnya dipakai oleh evaluator antara lain adalah tes, pengukuran sikap, survey dan kuesioner survey, wawancara, pengamatan, on-site evaluation, teknik Delphi, analisis kebutuhan, analisis konten, sampling, eksperimental, quasi-experimental, dan sebagainya. Penentuan alat evaluasi hendaknya sesuai dengan tujuan dan pertanyaan evaluasi yang dikemukakan sebelumnya. Sebagai contoh, jika Anda akan mengevaluasi kemajuan prestasi siswa dalam beberapa matapelajaran, hendaknya Anda menggunakan tes tertulis sebagai alat evaluasi. Contoh lain jika Anda akan mengevaluasi minat dan bakat siswa, Anda bisa menggunakan tes lisan, wawancara, atau pengukuran sikap.

7. Merencanakan Personal Evaluasi

Yang dimaksud personal evaluasi di sini adalah seluruh sumberdaya manusia yang tersedia dan terlibat untuk pelaksanaan evaluasi. Termasuk di sini antara lain adalah (1) evaluator atau team evaluator, (2) klien yang meminta evaluasi, dan (3) evaluand (objek evaluasi). Dalam posisi kita sebagai evaluator, kita bisa meminta bantuan dari evaluator eksternal yang memiliki keahlian tertentu dalam bidangnya. Keuntungan menggunakan evaluator eksternal antara lain adalah hasil evaluasi akan lebih objektif karena mereka jarang memiliki kepentingan tertentu (vested interest) dalam keberhasilan atau kegagalan suatu program. Keuntungan lainnya adalah bahwa evaluator eksternal bisa memperkaya perspektif lain ketimbang evaluator internal.

8. Merencanakan Anggaran

Anggaran dan pembiayaan kadang bisa menjadi kendala untuk keberhasilan pelaksanaan evaluasi. Dana yang tidak sesuai dengan perencanaan anggaran bisa menghambat jalannya program. Di lain pihak, perencanaan anggaran yang tidak realistis juga akan berdampak buruk dalam pelaksanaan evaluasi. Sebagai contoh, dalam hal ini kita harus bisa menyesuaikan perencanaan anggaran dengan dana yang tersedia, misalnya dana yang disediakan oleh sponsor atau dana yang tersedia dalam anggaran rutin. Dengan kata lain, agar rencana sesuai dengan realisasi, perencanaan anggaran dan biaya yang kita buat harus realistis dan tetap berpatokkan pada konsep efisiensi. Bila Anda merasa anggaran Anda kurang sempurna, Anda bisa meminta bantuan orang-orang perencanaan anggaran, konsultan keuangan dan/atau akuntan.

9. Merencanakan Jadwal Kegiatan

Suatu perencanaan akan lebih mudah dipahami dan lebih mudah dilaksanakan bila kita memiliki suatu jadwal kegiatan, yang terdiri dari jenis-jenis kegiatan yang akan dilakukan dan waktu yang tersedia. Dengan jadwal, kita dapat menentukan apa yang harus kita lakukan hari ini, misalnya. Kita harus tetap menjaga agar aktivitas dan waktu kita tidak keluar dari jadwal yang telah ditetapkan, sebab jika hal tersebut terjadi, maka kegiatan lainnya akan terpengaruh juga. Namun demikian, kita tidak boleh melepaskan diri dari fleksibilitas jadwal, artinya suatu kegiatan dalam suatu rangkaian kegiatan hendaknya dibuat fleksibel agar jika terjadi hal-hal yang diluar dugaan, hal tersebut bisa diantisipasi sesegera mungkin. Perencanaan jadwal kegiatan dapat didasarkan pada permintaan klien, kebutuhan program atau berpatokkan pada kriteria dan peraturan tertentu.

Suatu desain ialah rencana yang menunjukkan bila evaluasi akan dilakukan dan dari siapa evaluasi atau informasi akan dikumpulkan selama proses evaluasi. Alasan utama memakai desain yaitu untuk meyakinkan bahwa evaluasi akan dilakukan menurut organisasi yang teratur dan menurut aturan evaluasi yang baik. Semua orang yang terlibat dalam evaluasi adalah orang yang tepat, dilakukan pada waktu yang tepat, dan di tempat yang tepat seperti yang telah direncanakan.

Pada dasarnya suatu desain adalah bagaimana mengumpulkan informasi yang komparatif sehingga hasil program yang dievaluasi dapat dipakai untuk menilai manfaat dan besarnya program.

D. DESAIN EVALUASI

1. Desain dalam Evaluasi Sumatif

Biasanya desain dihubungkan dengan evaluasi sumatif, evaluator sumatif diharapkan membuat kesimpulan umum, menyingkat dan membuat laporan tentang keberhasilan program. Karena laporan tersebut dapat mempengaruhi keputusan tentang masa depan program atau nasib orang lain, maka evaluator perlu mendukung penemuannya dengan data yang andal. Oleh sebab itu, evaluator harus memperkirakan dan memperhitungkan adanya argumentasi atau bahkan serangan dan kritik atau kesimpulan dari golongan atau orang yang menentangnya.

Biasanya desain dibuat sebagai metode untuk melakukan eksperimen ilmiah, yaitu metode yang orang dapat membuat dampak secara logika pada hasil suatu perlakuan yang dibuatnya, misalnya evaluasi pendidikan, perlakuannya adalah program pendidikan.

2. Desain dalam Evaluasi Formatif

Menggunakan desain formatif dalam program berarti karyawan program akan berkesempatan melihat dengan seksama efektivitas program dan komponen yang ada di dalamnya. Hal ini memungkinkan evaluator menjalankan fungsinya yang utama, menganjurkan orang-orang program mengamati terus menerus dengan cermat kegiatan-kegiatan dalam program. Membuat desain dengan teliti akan menolong evaluator membuat penelitian percontohan, membuat eksperimen percobaan pada komponen program tertentu, misalnya komponen program yang baru dibuat. Hal ini akan meyakinkan langkah-langkah selanjutnya. Kelompok kontrol dan data dari time series measurement (evaluasi seri waktu) akan membuat informasi lebih mudah ditafsirkan.

Sampai sini, apakah Anda bisa menyimpulkan aspek apa saja yang harus kita pertimbangkan dalam membuat perencanaan evaluasi, termasuk langkah-langkah perencanaannya? Jadi pada intinya perencanaan evaluasi harus memperhatikan hal- hal berikut: Who doing what to whom, how, when, and what for and for whom? Ini berarti evaluator merencanakan siapa-siapa saja yang terlibat dalam evaluasi, menentukan cara melakukannya dalam batas waktu dan tempat serta sumberdaya yang tersedia. Dengan kata lain, evaluator melakukan evaluasi dengan tujuan tertentu, dengan cara tertentu, pada tempat dan waktu tertentu, terhadap partisipan untuk kepentingan klien. Berbicara mengenai how atau cara melakukannya akan melibatkan banyak aspek, antara lain indikator evaluasi, jenis data, metode dan teknik pengumpulan data, analisis dan interpretasi data, dan sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, (1988), Penilaian Program Pendidikan, Jakarta: Bina Aksara. Depdikbud, (1983). Penilaian Program Pendidikan, Modul 12 Program Akta V-B, Jakarta.

Chelimsky, Eleanor & Shadish, William R. (1997). Evaluation for The 21 st Century; A handbook, International Educational and Professional Publisher Thousand Oaks London New Delhi: Sage Publications.

Fernandes, H.J.X. (1984), Evaluation of Educational Programs. Jakarta: National Educational Planning and Curriculum Development.

Fraenkel & Wallen (1993). How to Design and Evaluate Research in Education (2nd ed.). McGraw-Hill Inc.

Isaac S, & Michael, W.B. (1983). Handbook in Research and Evaluation, San Diago, California.

Koentjaraningrat (1977). Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia.

Stuffebeam, D.L & Shinkfield, A.J. (1987), Evaluation and Enlightment for Decision Making, Columbus, OH: Ohio State University, Evaluation Center. Tayibnafis, Farida Yusuf, (2000), Evaluasi Program, Jakarta: Rineka Cipta.

Torres, Rosalie T., Preskill, Hallie S & Piontek, Mary E. (1996). Evaluating Strategis for Communicating and Reporting; Enhancing Learning in Organizations, International Educational and Professional Publisher Thousand Oaks London New Delhi: Sage Publications.

Worthen, B.R & Sanders, J.R. (1973), Evaluating Educational and Social Program: Guidelines for Proposal Review Onsite Evaluation Contracts and Technical Assistance, Boston: Kluwer Nyhoff.

Worthen, B.R & Sanders, J.R. (1988), Educational Evaluation; Alternative Approaches and Practical Guidelines. New York & London: Longman.

loading...
artikel kejuruan

No comments:

Post a Comment

Search Post