Laman

5 Feb 2018

Pengertian Sekolah Menengah Kejuruan Menurut Para Ahli

Sekolah menengah kejuruan menurut para ahli berikut diulas berdasarkan beberapa pendapat yang relevan dan sering digunakan dalam mendefinisikan sekolah menengah kejuruan. Banyak para ahli yang mendefinisikan terutama prosser mengungkapkan Enam belas Prosser Teorema pada Pendidikan Kejuruan.
Menurut adhikary Pendidikan kejuruan  adalah pendidikan yang dirancang untuk mengembangkan keterampilan, kemampuan/kecakapan, pemahaman, sikap, kebiasaan-kebiasaan kerja, dan apresiasi yang diperlukan oleh pekerja dalam mamasuki pekerjaan dan membuat kemajuan-kemajuan dalam pekerjaan penuh makna dan produktif (Adhikary, P.K.,2005).
pengertian sekolah menengah kejuruan menurut para ahli
Menurut Pavlova (2009) tradisi dari pendidikan kejuruan adalah menyiapkan siswa untuk bekerja. Pendidikan dan pelatihan kejuruan/vokasi adalah pendidikan yang menyiapkan terbentuknya keterampilan, kecakapan, pengertian, perilaku, sikap, kebiasaan kerja, dan apresiasi terhadap pekerjaan-pekerjaan yang dibutuhkan oleh masyarakat dunia usaha/industri, diawasi oleh masyarakat dan pemerintah atau dalam kontrak dengan lembaga serta berbasis produktif. Apresiasi terhadap pekerjaan sebagai akibat dari adanya kesadaran bahwa orang hidup butuh bekerja merupakan bagian pokok  dari pendidikan kejuruan/vokasi. Pendidikan kejuruan/vokasi menjadi tanpa makna jika masyarakat dan peserta didik kurang memiliki apresiasi terhadap pekerjaan-pekerjaan dan kurang memiliki perhatian terhadap cara  bekerja yang benar dan produktif sebagai kebiasaan.
Menurut Atchoarena D (2009) Dalam kaitan dengan dunia pendidikan kejuruan, kaum pragmatisme menghendaki pembagian yang tetap terhadap persoalan yang bersifat teoritis Pendidikan kejuruan/vokasi dikembangkan tidak semata-mata menggunakan instrument kebijakan pendidikan tetapi juga menggunakan instrument kebijakan sosial, ekononomi, politik, dan ketenaga kerjaan.
Menurut Rojewski (2009:20-21) di Amerika Serikat pada awal tahun 1900-an telah terjadi perdebatan tentang pelatihan vokasi dalam pendidikan umum.. Ada dua tokoh sejarah yang bersilang pendapat satu sama lain yaitu Charles Prosser dan John Dewey.
Prosser memandang pendidikan vokasi dari sudut efisiensi sosial yang menempatkan posisi sekolah kejuruan sebagai wahana pemenuhan kebutuhan ketenagakerjaan suatu Negara bukan untuk pemenuhan kebutuhan individu.  Kubu efisiensi sosial menyiapkan pelatihan yang baik yang sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja. Pendidikan kejuruan diorganisir dengan urutan yang rigit dengan pemasrahan hand-on instruction oleh orang yang berpengalaman luas
Dalam pandangan yang berbeda John Dewey meyakini bahwa tujuan dasar pendidikan adalah untuk mempertemukan kebutuhan individu untuk pemenuhan pribadinya dan persiapan menjalani hidup. Siswa pendidikan kejuruan diajari bagaimana memecahkan masalah secara berbeda-beda sesuai kondisi individu masing-masing. Dewey menolak gambaran siswa sebagai individu yang pasif, dikendalikan oleh tekanan ekonomi pasar dan eksistensinya dibatasi dalam mengembangkan kapasitas intelektualnya. Dewey memandang siswa adalah aktif memburu dan mengkonstruksi pengetahuan (Rojewski, J.W., 2009:21).
Pengertian dan pemahaman sekolah menengah kejuruan ini telah dikupas oleh rojowski terutama dalam kaitan perbedaan pemahaman antara prosser dan john dewei.
Pendidikan kejuruan dikembangkan dengan memperhatikan studi sektor ekonomi, studi kebijakan pembangunan ekonomi, dan studi pemberdayaan tenaga kerja (man-power). Perkembangan ekonomi sering memiliki pengaruh utama pada isi dan arah kurikulum dan program pendidikan kejuruan/vokasi. Globalisasi bisnis dan pasar menghasilkan peningkatan substansial dan persaingan tenaga kerja terampil dan barang bermutu tinggi (Rojewski, J.W., 2009; Pavlova, M., 2009).

loading...
artikel kejuruan

No comments:

Post a Comment

Search Post